Surabaya

Perangi Anak Kecanduan Gadget dengan Taman Baca

Sejauh ini perkembangan teknologi tak bisa terbendung lagi. Semua lapisan masyarakat sangat mudah mengakses internet dimana dan kapan saja. Mulai dari orang tua hingga anak-anak yang belum cukup umur sudah bermain internet dengan gadget-nya. Hal inilah yang membuat beberapa anak muda merasa prihatin melihat anak-anak kecil mulai kurang bersosialisasi dengan masyarakat di sekitarnya.
Berangkat dari rasa kekhawatiran melihat sang keponakan yang suka bermain ponsel inilah, Abdul Tirta Abidin, pemuda asal Mojokerto, Jawa Timur ini pun akhirnya menggagas taman baca yang ia namai Griyo Maos “Banyu Ilmu” .Taman baca yang ia dirikan dengan kantong sendiri ini, diharapkan mampu mengatasi kekhawatirannya selama ini.
“Hadirnya taman baca ini kami harapkan dapat memberikan dampak positif bagi anak-anak, untuk meningkatkan minat baca juga sekaligus mengalihkan perhatian mereka agar tidak kecanduan gadget atau terjerumus dengan pergaulan yang negatif,” kata Bidin disela-sela acara edukasi gunung meletus di halaman Griyo Maos, Desa Japanan-Kemlagi, Mojokerto.
Dia memandang bahwa keberadaan perpustakaan saat ini harus bertransformasi. Artinya, harus ada perubahan citra di tengah masyarakat terhadap perpustakaan itu sendiri. Bahkan, saat ini pihaknya juga kerap melakukan jemput bola kepada anak-anak untuk menarik minat baca mereka.
“Kami seringkali menambahkan kegiatan rutin dengan memberikan edukasi-edukasi, seperti kami menghadirkan teman-teman dari komunitas Trashbag Community untuk memberikan edukasi tentang gunung meletus,juga hiburan lainnya.Pokoknya kita berikan sesuatu yang baru agar mereka tertarik untuk selalu datang ke Griyo Maos ini,” tutur pemuda yang akrab disapa Bidin ini.
Disisi lain Dian Nurdianto, salah satu relawan dari komunitas pecinta alam yang mengisi edukasi di Griyo Maos mengaku sangat excited bisa terlibat dalam acara tersebut.
“Saya senang bisa terlibat dalam kegiatan sosial di Griyo Maos karena untuk menekan tingkat kenakalan pada anak, kebetulan juga saya memiliki adik. Jadi kegiatan seperti ini sangat membantu sekali,” ujarnya dengan wajah sumringah.
Griyo Maos sendiri merupakan kata yang diadaptasi dari bahasa Jawa halus yang berarti “Griyo adalah Rumah” dan “Maos berarti Baca”. Pemilihan nama ini bukanlah tanpa alasan, sebab pihaknya ingin kembali mengingatkan kepada khususnya generasi muda betapa pentingnya menjaga dan melestarikan budaya kromo inggil. Saat ini taman baca yang memiliki bangunan sebesar 3×3 meter persegi itu menampung setidaknya 600 buah buku diantaranya buku pelajaran dan buku bacaan lainnya yang merupakan hasil dari sumbangan beberapa relawan dan komunitas selama hampir lima bulan sejak diresmikannya taman baca ini. (Hany)

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas