Metropolitan

Penyalahgunaan OOT Marak Badan POM Perketat Pengawasan

    Kepala badan POM Penny Lukito

    Apotek, toko-toko obat bahkan penjualan obat di dunia maya pun semakin diperketat pemantauannya. Hal ini lantaran maraknya penjualan obat-obatan keras tanpa resep dokter yang dilakukan oleh sejumlah apotek juga toko obat bahkan apotek-apotek online atau toko-toko obat online. Dampak dari pengawasan ketat itu, kini banyak apotek juga toko obat yang menolak konsumen yang ingin membeli obat-obat tertentu. Antibiotik misalnya, kini tidak bisa lagi dibeli secara bebas alias tanpa resep dokter.
    Bicara tentang antibitik, sebenarnya larangan menjual antibiotik secara bebas sudah ada karena obat tersebut termasuk golongan obat keras yang harus dibeli berdasarkan resep dokter. Namun, obat yang masuk golongan obat keras itu bisa dibeli bebas menyusul terungkapnya kasus Tora Sudiro yang bisa mendapatkan obat keras (dumolid) dengan bebas maka kini pengawasan pun semakin diperketat oleh Badan POM.
    Tentang penggolongan obat sudah ditetapkan dalam peraturan Menteri Kesehatan. Setidaknya ada lima golongan obat yakni; obat bebas, obat bebas terbatas, obat wajib apotek atau OWA (obat keras yang dapat diperoleh tanpa resep dokter di apotek namun dalam jumlah terbatas dan diatur oleh apoteker), obat keras dan psikotropika dan narkotika.
    Antibiotik ini dalam penggolongan obat tersebut masuk dalam obat keras atau dulunya disebut golongan obat ‘G’. ‘G’ singkatan dari ‘Gevarlijk’ yang artinya berbahaya. Bahaya yang dimaksud adalah jika pemakaiannya tidak berdasarkan resep dokter dikhawatirkan dapat memperparah penyakit, meracuni tubuh bahkan menyebabkan kematian.
    Umumnya yang termasuk golongan ini adalah obat generik, obat wajib apotek (OWA), antibiotek seperti penisilin, tetrasiklin, sefalosporin dan sebagainya, serta obat-obatan yang mengandung hormon, seperti obat penenang, obat diabetes dan lainnya, psikotropika.
    Permasalahan itu tidak diketahui oleh masyarakat secara luas. Mereka pun umumnya tidak tahu yang termasuk obat keras apa saja, bahkan sebagian masyarakat tidak tahu kalau antibiotik yang biasa dikonsumsi itu termasuk obat keras lantaran sebelumnya mereka bisa membeli secara bebas.
    “Aneh, kok, sekarang beli obat antibiotik harus pakai resep dokter. Selama ini saya beli antibiotik bebas saja, nggak pakai resep dokter. Saya beli di apotik ini juga,” ujar Awit kesal lantaran niatnya membeli obat antiotik amoxicillin untuk mengobati penyakit batuknya, ditolak petugas apotik dengan alasan harus ada resep dokter. Petugas apotik itu pun dengan sabar menjelaskan bahwa antibiotik termasuk obat keras yang harus dibeli dengan resep dokter.
    Kejengkelan Awit belum reda juga. Kebetulan saat bersamaan datang seorang pria yang ternyata seorang dokter. Dokter yang ternyata juga dokter yang baru didatangi Awit, meminta pada petugas apotik untuk memberikan obat yang dimaksud.
    “Kasih saja mbak, saya yang tanggung jawab. Saya dokter. Tadi ibu ini berobat di tempat saya, tapi saya tidak memberikan obat antibiotik. Nanti resepnya saya kasih,” ujar dokter itu. Tapi petugas apotek tersebut tetap keukeuh menolak memberikan obat yang dimaksud tanpa resep dokter. Akhirnya si dokter pun mengatakan kepada Awit agar kembali ketempat prakteknya dan akan diberikan resep untuk obat antibiotik tersebut.
    Kisah yang dialami Awit ini tentunya juga dialami banyak orang. Karena sekalipun larangan memberikan obat antibiotik tanpa resep sudah ada sejak dulu namun ternyata masih banyak apotek maupun toko obat yang tidak patuh. Contohnya Awit yang mengaku selama ini dia dapat membeli antibiotik di apotek tanpa resep dokter. Karenanya dia sempat kaget ketika keinginannya membeli obat itu kini ditolak apotek.
    Bisa jadi ini terkait dengan kasus artis Tora Sudiro yang kedapatan memiliki puluhan obat keras, dumolid. Menurut Tora, obat-obatan tersebut dibeli dari temannya. Akibat adanya kasus yang menghebohkan tersebut membuat BPOM makin memperketat pengawasan terhadap penjualan obatan-obatan keras di pasaranan. Tidak hanya apotek-apotek resmi yang ‘dipelototi’ tapi juga toko-toko obat bahkan apotek-apotek online yang sekarang marak di dunia maya.
    Menurut Kepala Badan POM Penny Lukito, kasus penyalahgunaan obat-obatan tertentu (OOT) bukan baru pertama kali terjadi. Hasil pengawasan Badan POM menemukan banyaknya konsumsi obat ilegal dan penyalaggunaan OOT oleh masyarakat khususnya generasi muda. Karenanya pihaknya secara khusus mengundang berbagai pihak terkait termasuk kepolisian dan kejaksaan serta pihak Bea Cukai untuk membahas masalah pemberantasan penyalahgunaan obat.
    “Pelaksanaan tugas pengawasan obat dan makanan tidak bisa dilakukan secara single player oleh Badan POM sendiri. Oleh sebab itu, Badan POM mengajak kementerian dan lembaga terkait termasuk pemerintah daerah untuk terlibat dalam aksi tersebut,” ujar Penny Lukito.
    Menurutnya tahun 2017 ini, Badan POM berfokus pada pengawasan OOT secara full spectrum. Pertama adalah melakukan audit terpadu ke sarana produksi. Hal kedua adalah melakukan audit ke sarana distribusi resmi guna memverifikasi penarikan dan pemusnahan Karisoprodol. Ketiga adalah melakukan pengawasan di sarana pelayanan kefarmasian di apotek, rumah sakit, puskesmas, dan klinik-klinik kesehatan. Juga, melakukan operasi terpadu pemberantasan OOT di sejumlah daerah.

    Laman: 1 2 3

    Klik mengomentari

    Tinggalkan balasan

    Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    *

    code

Paling Populer

Ke atas