Sosialita

Start Up Coffee Tempat Ngobrol plus Ngopi yang Masuk Akal

Bermula dari hobi ngobrol dan nongkrong sana-sini bersama-teman-teman sembari menikmati secangkir kopi, muncullah ide untuk membuat sebuah tempat ngumpul dengan konsep angkringan (warung kopi) yang harganya terjangkau. Demikian pengakuan pemilik Start Up Coffee, Willy Arindra.
“Selama ini saya dan teman-teman sering ngumpul sambil minum kopi, membicarakan tentang bisnis, tentang kehidupan, dan saling sharing, tukar pikiran. Dari tempat-tempat yang sering kami singgahi itu, harganya tidak masuk akal, secangkir kopi bisa sampai Rp 60 ribu. Jika orang yang suka rutin ngopi jadi berasa banget,” tuturnya.
Dari kondisi itulah kemudian Willy bersama istri Eva Ayu Wijayanthi memutuskan membuka warung kopi yang bisa dipakai tempat ngumpul dan ngobrol sepuasnya sampai larut sambil minum kopi dengan harga yang masuk akal. Sehingga, antara minum kopi di rumah dan di Start Up Coffee tidak terlalu berbeda, hanya berpindah tempat saja. “Harga kopi di sini masihlah terjangkau untuk remaja kelas menengah ke bawah, mulai 8k,” ujarnya.
Start Up Coffee menawarkan 7 jenis kopi pilihan dari Nusantara, yakni kopi Aceh, Flores, Toraja, Jawa, Gayo, Kintamani, dan Wamena. Biji-biji kopi pilihan ini siap sesuai dengan ketersediaan pasar. Sementara untuk kopi lokal, selalu tersedia. Harga secangkir kopi di Start Up Coffee mulai 8k untuk kopi Kintamani sampai dengan 20k untuk jenis capucinno atau latte. Kopi khusus seperti latte, espresso dipatok mulai harga 13k-22k per cangkirnya. Sejak dibuka 20 Juli 2017, Kopi Kintamani dikatakannya paling digemari pengunjung.
Biji-biji kopi pilihan ini diproses dengan menggunakan metode dan mesin kopi yang sesuai standar, sehingga membuat cita rasa kopi di Start Up Coffee ini menjadi sangat pas. Dan, tentunya juga menggandeng anak-anak muda yang multi talenta dan berbakat di bidang kopi.
Di StartUp Coffee, sembari menyeruput kopi, lidah pengunjung juga dimanjakan dengan berbagai varian penganan sebagai penemannya. Ada waffle, spaghetti, kentang twister, quesadilla, dll. Kopi ini juga digandengkan dengan penganan tradisional seperti tipat, rujak, dan belayag. “Jika pagi, kami sediakan belayag, tipat cantok, menyusul nanti jaje Bali. Karena, ini yang jarang saya temui di warung-warung kopi lain. Pagi mulai jam 10 sampai jam 2 sore itu yang laris rujak, tipat dan belayag. Untuk belayag kami menggandeng kuliner ternama Belayag Bu Hendra.,” ujar ayah dari Giovana, David, dan Jesselyn ini.
Lokasi yang strategis di Jalan Tukad Musi, Renon, Denpasar, lahan parkir yang luas, ditambah dengan fasilitas free Wifi yang super kencang, membuat Start Up Coffee selalu dipadati pengunjung. “Biasanya pengunjung mulai ramai jam 5 sore ke atas,” ucap pria kelahiran Singaraja 31 tahun silam ini.
Start Up Coffee buka mulai pukul 08.00-24.00 wita setiap hari. Berikutnya, Willy mengatakan sedang mempersiapkan fasilitas open mic untuk anak-anak muda yang ingin mengekspresikan dirinya dengan bermain musik atau bisa juga bisa stand up commedy. “Alat-alat sedang dipersiapkan,” jelasnya.
Start Up Coffee mengambil konsep angkringan (warung kopi), dengan merangkul seniman-seniman muda. Sesuai dengan namanya “Start Up” yang dalam bahasa internet berarti awal memulai/bisnis awal/embrio, Willy berharap tempat ini pun bisa sebagai embrio. Start Up Coffee menjadi tempat berkumpul yang memunculkan ide-ide atau sesuatu untuk memulai hal baru. “Makanya saya memakai desain-desain karya anak muda, mereka menumpahkan idenya melalui, gambar-gambar mural,” ujar Willy sembari menunjuk ke bidang-bidang dinding yang dilukis indah. –ten

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas