Sosialita

Made Reina Candradewi: Lulusan Terbaik Wisuda ke-122 Universitas Udayana

Bulan Agustus lalu menjadi hari yang paling membanggakan bagi   perempuan bernama lengkap Dr. Made Reina Candradewi, S.E., M.Sc.  Perempuan kelahiran Denpasar, 11 Oktober 1988 ini, menyandang predikat sebagai lulusan terbaik dari seluruh wisudawan dan wisudawati Universitas Udayana.

Dengan disertasi berjudul “Peran Penggunaan Produk Derivatif dalam Memediasi Pengaruh Kinerja Keuangan dan Tata Kelola Perusahaan terhadap Risiko pada Perusahaan Non-Keuangan di Bursa Efek Indonesia”, pada Program Studi Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, Reina menyabet  indeks prestasi kumulatif yang hampir sempurna  3,99.  “Saya tidak pernah menargetkan hasil. Saya hanya menjalani studi doktor ini dengan sebaik-baiknya,” ujar istri Agoes Ganesha Rahyuda, S.E., M.T., Ph.D. ini sembari tersenyum.

Prestasi Reina memang moncer. Bukan baru ini saja ia mendapatkan prestasi yang membanggakan. Saat kuliah S-1 ia juga tercatat sebagai lulusan tercepat di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana  dengan waktu tempuh  2 tahun 10 bulan.

“Pada tahun 2009, suami saya mendapatkan beasiswa kuliah S-3 di Kent Business School, University of Kent, Inggris, saya pun ikut menemani suami, dan berkat dukungan bapak dan ibu mertua saya juga melanjutkan kuliah S-2 pada program Master of Finance, di Kent Business School, University of Kent, Inggris, pada tahun 2010,” kata putri pasangan Drs. Ketut Suardhika Natha, M.Si. dan Made Rahayuni ini.

Reina mengatakan, memang semua tak begitu mudah dicapai. Semua perlu perjuangan, karena sebelum melanjutkan studi, ia harus mengikuti program Pre-Sessional Courses-English for Academic Purposes di University of Kent selama 6 minggu agar bisa mengikuti kuliah dengan baik.

Tugas akhir yang disusun Reina pada studi S-2 berjudul “A Study of Forward and Futures Prices on the Commercial Property IPD Index for the United Kingdom”  dengan dibimbing oleh Prof. Radu Tunaru. Reina sangat terharu karena kerja kerasnya dalam menyelesaikan studi S-2 membuahkan hasil, ia berhasil meraih gelar Master of Science in Finance dengan predikat Distinction. Hasil itu tentu saja membuat Reina bangga karena ia adalah orang Indonesia yang harus bersaing dengan para mahasiswa dari Inggris, Eropa, Cina, dan Arab.  Disamping itu, Reina malah mengaku, bahasa Inggrisnya mungkin kurang dibandingkan para mahasiswa lain. Namun, ketekunan Reina mendapat apresiasi yang luar biasa dari pembimbingnya, Prof. Radu Tunaru.

Berkat prestasinya, Reina diberikan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S-3 di Inggris. Namun, Reina masih mempertimbangkan tawaran itu karena sang suami, Agoes Ganesha Rahyuda, hanya lagi setahun selesai masa studi S-3nya. Selama setahun menunggu suami, Reina menerima tawaran Prof. Radu Tunaru menjadi  Research Assistant. Tugasnya, mengumpulkan data, mentabulasi data dan mengolah data dengan program statistik. Tahun 2013, setelah suaminya menyelesaikan studi doktornya, Reina dan suami balik ke Indonesia.  Atas anjuran dan dukungan bapak ibu mertuanya, Prof. Dr. Ketut Rahyuda, M.S.I.E. dan Nyoman Rani Rahyuda, ia akhirnya melanjutkan studi S-3 di Universitas Udayana.  Bagi Reina kesempatan itu sungguh membahagiakan untuk dirinya, walaupun di sisi lain, merupakan tanggungjawab yang besar karena ia juga harus mengurus buah hatinya.

Kesempatan berkarier menjadi dosen ia dapatkan ketika tahun 2013, ada lowongan dosen baru. Reina ikut tes dan lolos. Pada April tahun 2014 Reina mendapatkan SK Pengangkatan CPNS Dosen. Kemudian pada Februari Tahun 2016, Reina resmi menyandang status dosen PNS di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana. Ia juga mendapatkan hadiah spesial lahirnya anak bungsu yang kini masih berusia 2 tahun.

Bulan Agustus 2017, menjadi  hari yang paling  istimewa bagi Reina karena ia berhasil menamatkan program studi doktor Ilmu Manajemen  konsentrasi Manajemen Keuangan, dengan nilai sempurna. Menyandang status sebagai seorang istri, sebagai dosen, dan ibu dari tiga anak, Reina merasa hidupnya lengkap. Apalagi, ia mendapatkan bonus kebahagiaan karena dinobatkan sebagai lulusan terbaik Universitas Udayana dalam acara wisuda ke-122.

Reina menuturkan, banyak sekali suka dukanya saat kuliah doktor. “Saya harus cuti kuliah karena saya hamil. Kemudian, saya juga kerja dan mengurus anak-anak. Setelah punya bayi, harus bangun subuh karena menjaga bayi. Jam 6 harus sudah bangun menyiapkan keperluan  dua anak yang mau sekolah. Kemudian, juga harus kerja. Di atas jam 10 malam, saya baru bisa ngerjain disertasi saya. Rasanya, kalau ingat itu, terharu sekali dengan masa-masa perjuangan dulu,” ujar Reina dengan mata berkaca-kaca.

Ia sangat bersyukur karena sang suami selalu memotivasi ketika semangatnya mulai lemah. “Syukurlah suami selalu memotivasi saya. Kalau saya lagi kendor, ia selalu punya cara membangkitkan mood saya, biasanya diajak makan di luar atau nonton di bioskop, agar semangat saya kembali,” tutur perempuan yang pernah menjadi juri dalam Kegiatan Teruna Bagus Teruni Jegeg BKFEB XLIX ini.

Ketika ditanya apakah ia tak ingin melengkapi gelarnya menjadi profesor, Reina langsung tersenyum. Saat ini, ia ingin fokus dulu untuk membesarkan ketiga anak-anaknya, selain bekerja sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Udayana.

Apa kiat suskes Reina untuk mencapai cita-citanya? Ia menjawab dengan lugas. “Untuk mencapai cita-cita, kita harus fokus dengan tujuan. Berusaha sebaik-baiknya dalam bekerja untuk mencapai target. Memang kadang, ada titik jenuh, karena itu, perlu refreshing agar bisa fokus kembali,” kata ibunda dari Putu Reisha Devi Rahyuda (11 th), Made Natasha Devi Rahyuda (9 th), dan Nyoman Gyanendra Rahyuda (2 th) ini.

Menjadi dosen dalam mata kuliah Manajemen Keuangan, Manajemen Risiko, Komunikasi Bisnis, Manajemen Keuangan Internasional, Statistika Ekonomi, Reina harus punya trik agar mahasiswa dengan senang hati menerima kuliah. Ia punya strategi dengan cara membuat power point  yang menarik. Disela-sela kuliah, ia selalu memberi pertanyaan  untuk didiskusikan atau kuis untuk dikerjakan sehingga mahasiswa kembali bersemangat.

Kebahagiaan Reina menjadi kebahagiaan bagi keluarga besarnya dan juga keluarga besar suaminya. Hal itu diungkapkan Ibunya,  Made Rahayuni. “Saya sangat bangga dengan Reina karena selain sebagai ibu dan istri, ia juga bekerja sebagai dosen dan berhasil menamatkan studinya dengan baik. Ia juga rutin membanten dan tak lupa tugasnya manyama braya. Saya kagum sekali dengan Reina karena sudah menjadi kebanggaan keluarga dan juga di tempatnya bekerja khususnya Fakultas Ekonomi Unud,” kata Rahayuni yang didampingi suaminya. Rahayuni berharap, ilmu yang telah didapat Reina, dapat disumbangkan kepada bangsa dan negara.

Bagi Reina, semua keberhasilan yang ia capai, tak lepas dari dukungan semua keluarga, baik dari keluarganya sendiri dan juga keluarga suaminya. Ia juga sangat bersyukur kepada Tuhan karena sudah melancarkan semua perjalanan dalam hidupnya. -ast

 

Peran Penggunaan Produk Derivatif

Reina bersama keluarga

Perkembangan pasar modal Indonesia sangat terlihat dengan meningkatnya jumlah dan nilai perdagangan perusahaan terdaftar di BEI setiap tahunnya. Pada tahun 2015, jumlah perusahaan terdaftar di BEI meningkat menjadi 521 unit dengan nilai perdagangan mencapai Rp 1.406.362 miliar (IDX Statistics, 2015).

Saat ini yang menjadi tantangan utama bagi perusahaan-perusahaan di BEI adalah bagaimana perusahaan mampu menghadapi globalisasi, liberalisasi dunia dan teknologi yang semakin maju. Ketiga hal tersebut dapat menjadi faktor pendukung produktivitas perusahaan jika perusahaan mampu menghadapinya dengan baik. Akan tetapi, ketiga hal tersebut juga dapat menjadi ancaman besar bagi perusahaan.

Hanafi (2014) menjelaskan bahwa globalisasi, liberalisasi dan teknologi merupakan faktor pendorong peningkatan risiko yang dihadapi perusahaan. Perusahaan saat ini memiliki berbagai macam risiko yang harus dihadapi seperti risiko perubahan tingkat bunga, risiko nilai tukar, risiko pasar, risiko kredit, risiko operasional, risiko teknologi, risiko likuidasi, risiko perubahan harga komoditas, risiko terjadinya krisis keuangan global dan lainnya. Risiko-risiko tersebut bisa terjadi kapan saja dan sulit untuk dihindari.

Akibatnya perusahaan dapat mengalami kerugian yang signifikan sehingga menyebabkan financial distress dan underinvestment problem. Masalah keuangan yang dialami perusahaan ini akan sangat berpengaruh pada nilai perusahaan. Oleh karena itu, semua risiko yang dihadapi oleh perusahaan akan tercermin pada volatilitas nilai perusahaan.  Perusahaan di negara maju maupun berkembang telah menggunakan produk derivatif selama bertahun-tahun karena instrumen derivatif ini menyediakan suatu jalan untuk mengelola risiko keuangan yang dihadapi perusahaan.

Namun, hanya 18,4% perusahaan di Indonesia yang menggunakan produk derivatif. Hasil ini sangat rendah jika dibandingkan dengan di negara-negara tersebut. Karena itu, penelitian mengenai penggunaan produk derivatif terhadap risiko perusahaan sangat diperlukan di Indonesia. -ast

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

To Top