Bunda & Ananda

Fleksibilitas Tubuh sangat Mendukung

Made Wiriadi saat membantu salah seorang anak melakukan satu gerakan senam

Segala sesuatu yang dimulai dari usia dini tentunya akan lebih baik. Hal ini juga berlaku bagi mereka yang mengikuti ekstra senam. “Jika berlatih senam dimulai dari usia dini, semua bisa dilatih sepanjang usianya tidak lewat dari usia anak kelas 6 SD. Tapi yang paling efektif adalah usia TK besar sampai kelas 3 SD, karena semua kelenturan dan kelentukan tubuh masih bisa dilatih. Di atas itu, saya kira sudah kaku. Makanya di sekolah ini saya sarankan yang ikut ekstra senam anak kelas 1-3,” ujar pelatih ekstra Senam yang juga guru PJOK di SDN 8 Dauh Puri, Made Wiriadi, S.Pd.

Ia menjelaskan, inti dari olahraga senam sama dengan atletik. Bisa dikatakan, senam adalah ibunya semua cabang olahraga. “Jika sudah menekuni senam, akan lebih presentatif untuk mengikuti cabor-cabor lain. Karena dasar-dasarnya semua ada di senam, seperti silat, wushu, renang, dll,” jelasnya.

Untuk mengikuti cabor senam ini pada dasarnya melihat skill anak. Meskipun anak ada minat, tapi kelenturan tidak ada, tidak akan jadi atlet profesional. Karena dikatakannya dalam senam ini fleksibilitas tubuh sangat mendukung. Dalam artian, harus banyak mengandung unsur kesegaran jasmani, seperti keseimbangan (balance), kecepatan, kekuatan, speed, kelenturan, kelentukan, dsb. “Ini yang harus dimiliki anak-anak peserta senam,” tegas Ketua Harian Pengprov Persani (Persatuan Senam Indonesia) Bali yang sudah menelurkan 7 atlet terbaik pada Porjar Kota Denpasar tahun 2016 ini.

Senam adalah ikon olahraga SDN 8 Dangri. Sejak Made Wiriadi bertugas di SD ini tahun 1995, Persani Kota Denpasar membentuk cabangnya di Kota Denpasar dengan nama “Surya Teria”, dan sudah menelurkan atlet-etlet nasional. Untuk anak-anak yang menggandrungi senam-dalam hal ini senam artistik (senam lantai), ditegaskannya lagi kesegaran jasmani, keseimbangan (balance), kecepatan, kekuatan, speed, kelenturan, kelentukan itu sangat mendukung. Berbeda dengan senam ritmit, senam ini memakai 4 alat yakni bola, tali, simpai, dan pita. Dalam senam ini hanya mengandalkan fleksibelitas dan kelenturan tubuh saja. Untuk speed dan kekuatan tidak terlalu dominan diperlukan dalam senam ritmit.

Made Wiriadi mengatakan sekarang ini ia sedang melatih secara intensif atlet I Gusti Agung Krisna Pranata yang akan mewakili Bali Cabor Senam dalam Olympiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) di Medan. “Dia tiga bersaudara. Ketiganya ikut senam dan berprestasi. Kakaknya I Gusti Agung Arjun Pratama Yoga meraih Juara 3 O2SN di Makassar tahun 2015. Adiknya juga pernah menjuarai Wali Kota Cup dan Porjar,” paparnya.

Untuk itu, Made Wiriadi selalu menekankan kedisiplinan pada anak-anak dan giat berlatih. “Apa yang sudah didapat di tempat latihan (sekolah) hendaknya direfleksikan kembali di rumah, seperti penguatan otot perut, melatih daya ledak. Di sekolah diberikan contoh-contoh gerakan supaya di rumah bisa dilatih lagi biar prosesnya cepat,” ucapnya. (Inten Indrawati)

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas