Inspirasi

Buka Hari Dongeng di Rumah Dongeng

Salah satu permainan anak “Kul Kuk” yang menceritakan tentang adu balap anatara Menjangan dan Kakul yang akhirnya dimenangkan kakul dengan sifat gotong royongnya

Siapa yang tak kenal dengan nama Made Taro. Pria sepuh dengan ciri khas rambut putihnya ini dikenal sebagai pakar dan praktisi permainan tradisional anak.

Ditemui di kediamannya yang asri di kawasan Suwung-Denpasar, ia yang diberi gelar Maestro Seni Tradisi Lisan tahun 2008 oleh Menteri Budaya dan Pariwisata RI, dilanjutkan menerima Anugerah Kebudayaan dari Presiden tahun 2009 ini menuturkan awal ketertarikannya pada permainan tradisional. “Awalnya saya hanya sebagai pemerhati, dulu saya sedang gila-gilanya bikin puisi dan cerpen,” ujarnya.

Sekitar tahun 1973, ketika sudah menikah dan memiliki  tiga anak, suami Wayan Wati ini mendapati anak-anak tetangga di kompleks perumahannya (mes SMAN 2 Denpasar), bengong. Ia membandingkan dengan dirinya ketika masih kecil tak pernah bengong, justru sering menjelajah. Darisana Made Taro berpikir bahwa anak-anak kehilangan sesuatu, yaitu dunia anak-anak. “Seperti ada suatu  panggilan. Kemudian saya memanggil anak itu, saya ajak bermain. Mainan pertama pindekan, saya buatkan dari kertas karton. Ternyata dia senang sekali,” kisahnya.

Mainan berikutnya, layangan, dengkleng gunung, engkeb-engkeban (alih-alihan) sampai ia juga ikut bermain. Lama-lama makin banyak anak yang ikut. Mereka senang sekali. Made Taro kemudian meningkatkannya. Ketika menanyakan pada anak-anak maukah mendengarkan dongeng? Mereka serempak menjawab “mau”. Akhirnya Made Taro membuka tiap Sabtu malam sebagai Hari Dongeng, yang dilakukan di kamarnya. Sebuah kamar kecil sebagai tempat ia mendongengkan anak-anak tersebut kemudian diberinya nama “Rumah Dongeng”.

Mereka sangat senang, terkumpul 8 anak dari rentang usia 4-10 tahun. Para orangtua pun sangat antusias  dan mendukung aktivitas anak-anak mereka. Made Taro lebih bersemangat lagi berekspresi, bahkan sesekali ia mendongeng dengan menggunakan wayang dari balik jendela. Aktivitas ini berjalan sampai 6 tahun. Tak hanya bagi anak-anak, ia menilai aktivitas ini juga positif untuk dirinya. “Saya jadinya selalu memburu dongeng, agar bisa menampilkan dongeng yang berbeda-beda pada anak. Saya biasanya mencari dari bacaan anak seperti Majalah Bobo, Kuncung, dll.,” ujar pria yang juga sempat menulis dongeng di Bali Post ini.

Sekitar tahun 1978, Made Taro mengisi Teater Remaja di TVRI Denpasar. Suatu ketika, salah seorang anak asuhnya di Rumah Dongeng menyeletuk “mengapa Bapak tidak membuat sanggar anak-anak?”. Inisiatif anak tersebut ditanggapi Made Taro dengan syarat anak itu bisa mengumpulkan teman-temannya sebanyak sebanyak 10 orang. Ternyata yang datang 15 orang. Kelima belas anak itu pun dipakai dan Teater Anak “Kukuruyuk” pentas perdana di TVRI 15 Juni 1979, membawakan lakon “Kaki Cubling” dalam bentuk operet.

Selanjutnya,tanggal tersebut dipakai sebagai hari lahirnya Teater Kukuruyuk, yang sekarang menjadi Sanggar Kukuruyuk. Kegiatan ini direspons positif TVRI dengan memberikan jadwal tetap. Namun, pemirsa anak-anak “bertanda tanya”. Dari cerita para orangtua, mereka tidak mengerti akan tayangan tersebut. “Permainannya tidak tahu, lagunya  tidak tahu, ceritanya tidak tahu, semua itu asing bagi mereka. Tetapi para orangtua sangat menyambut, karena bernostalgia pada masa kecilnya,” tuturnya.

Salah seorang tokoh yang menyambut baik hal ini adalah I Gusti Ngurah Pinda, Ketua Listibya saat itu yang juga pernah menjabat Wakil Gubernur Bali. Apa yang dilakukannya ini kemudian mendapat perhatian pemerintah. Sanggar Kukuruyuk diberikan kesempatan pentas di PKB tahun 1991, juga diberikan bantuan tabuh sederhana. Tahun 1995 Made Taro diangkat menjadi koordinator (Pembina) permainan tradisional, bertugas menatar guru-guru SD sebagai instruktur permainan tradisional ke daerah-daerah untuk seluruh Bali yang akan dipentaskan di PKB. Tahun 1996, buku Made Taro “Bunga Rampai Permainan Tradisional Bali” diterbitkan pemerintah dan masuk dalam kurikulum. “Tahun itu permainan tradisional masuk ke dalam kurikulum muatan lokal SD,” ujarnya.  Bagi saya ini masa jayanya permainan tradisional.

Namun di tahun 2002 semua hilang. Dalam PKB tidak diprogramkan lagi, termasuk dalam kurikulum muatan lokal juga hilang. “Bahasa Bali dan mejejaitan masih ada. Bahkan waktu itu saya sampai bertanya ke provinsi mengapa permainan tradisional hilang. Perasaan saya tentunya sedih, semua yang diperjuangkan hilang. Saya tak pernah bersuara lagi. Beberepa sekolah yang masih berminat tetap mempertahankannya tapi menjadikannya ekstra kurikuler sampai sekarang,” tuturnya.

Agar permainan-permainan tersebut tidak hilang, Made Taro menerbitkannya dalam bentuk buku.  Permainan tersebut diciptakannya sendiri berdasarkan dongeng yang dijadikan permainan. Sampai saat ini ia sudah menciptakan 17 permainan anak yang dikaitkan dengan dongeng, cirinya tetap tradisional. “Bahkan sudah banyak yang diangkat di PAUD. Antara lain permainan sepit-sepitan yang diangkat dari cerita tantric, lutung-lutungan, godog-godogan, macam mebaju kambing, keranjang duren, dsb. Ia pun kerap diundang kemana-mana untuk mendongeng yang delalu metodenya sambil bermain.

 

Dongeng Pengantar Tidur dari Bapak

Apa yang dilakoni Made Taro kini tak terlepas dari kehidipan masa kecilnya. Ibunya seotang penari sanghyang, Bapak mangku Pura Puseh merangkap petani dan penari topeng. “Setiap hari mebebasa (membaca lontar –berbahasa Jawa kuno dan diterjemahkan ke bahasa Bali), bapak mmebaca, dalang menerjemahkan. Saya mendengarkan sambil lalu. Ibu membuat minyak kelapa sambil megending rare. Begitu setiap hari,” kisahnya.

Menjelang tidur, Made Taro kecil pasti mendapatkan dongeng dari Bapaknya. “Dongengnya itu-itu saja diulang-ulang, bawang-kesuna, timun mas, pan cubling. Bosan. Seperti itulah tugas orangtua saya, setelah mendongeng tugas selesai dan disambung lagi besoknya,” ucapnya tersenyum.

Setelah mengenyam bangku sekolah, keseharian Made Taro meningkat ke permainan. Setelah datang dari sekolah, ia harus membantu pekerjaan orangtua mengembalakan sapi sambil mencari kayu bakar di lereng gunung, mencarikan rumput dan sesekali memandikan sapi. Setelah pekerjaan ini selesai, orangtua memberikan kebebasan untuk bermainan kemana saja, di kebun, di banjar,  ke halaman pura, di pantai. Setelah tua, saya baru merasakan pengalaman hidup semasa kecil terutama 3 bidang itu, permainan tradisional, cerita rakyat dan gending rare sampai sekarang,” ucapnya.

Oleh Karena zaman, ia mengamati 3 genre itu terlupakan. Karena itulah, Made Taro berusaha untuk untuk menghidupkannya kembali melalui tayangan televisi, penerbitan buku, dan pentas-pntas di event-event tertentu. “Setelah mengumpulkan, menggali, merekonstrusi, dan mengevaluasi, saya sudah mengantongi 200 jenis permainan, 225 gending rare, dan ratusan mungkin mendekati seribuan cerita rakyat dari seluruh dunia,” ujar Made Taro yang saat ini juga menjadi pengisi rubrik tetap “Mendongeng Lima Menit” di Tabloid Mingguan Tokoh.

Sampai sekarang, setidaknya ada 40 judul buku dongeng, gending rare, dan permainan anak yang sudah dikumpulkannya. Satu buku baru saja terbit di AS berjudul “Gending Rare the Children Song From Bali”. Berikutnya juga akan segera diterbitkan buku cerita bergambar “The Gift of Young Rice” yang dipakai studi di AS.

Setamat SD, ia merantau sekolah ke Gianyar. Di kelas 1 SGB (setingkat SMP sekarang) Made Taro sudahmenulis puisi, hingga dimuat di Koran Suluh Indonesia terbitan Jakarta. Isinya tentang kerinduannya pada kampung, orangtua, dan teman-temannya. Secara kebetulan juga Bapak kosnya itu seorang pengarang. Ia mengaku sering “mencuri” membaca buku-buku sastra seperti pujangga baru, dll., tanpa sepengetahuan si empunya. Buku yang paling menarik baginya, “Gema Tanah Air” buku kumpulan puisi, yang di dalamnya ada Chairil Anwar. Selepas SGB Gianyar ini, Made Taro kemudian melanjutkan sekolah ke SGA Singaraja. Di sisnilah ia makin tergila-gila membuat puisi dan cerpen yang sampai kini masih tetap dilakoninya sewaktu-waktu.

Made Taro merasakana dunia anak sekarang berbeda dengan zamannya.  “Kemajuan sangat pesat terutama dalam IT, namun saya masih tetap berpendapat kearifan lokal sangat berguna bagi pembentukan kepribadian kita. Khusus di Bali, kepercayaan akan karmapala luntur. Banyak orang berbuat jahat seolah-olah tidak percaya karmapala, dan ini sangat menghawatirkan. Karenaitu saya tulis dongeng-dongeng karmapala,” paparnya.

Terkait perkembangan permainan tradisional, ia optimis akan bangkit kembali tentunya dengan campur tangan pemerintah. “Saya bangga, sekarang ini yang bangkit justru anak-anak muda. Seperti pada Lomba Hompimpa, anak-anak muda yang bergerak. (Inten Indrawati)

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas