Kreasi

Menganyam saat Waktu Luang

Para ibu-ibu yang sedang menganyam

Beragam kegiatan bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang. Salah satunya menganyam bambu untuk dijadikan aneka barang bermanfaat. Hal ini dilakoni ibu-ibu di Br. Bangklet, Desa Kayubihi, Bangli. Mereka menganyam setelah urusan rumah tangga beres.

“Kami mulai menganyam setelah anak-anak berangkat sekolah dan semua urusan rumah tangga beres. Ada yang menganyam sendiri di rumah, ada juga yang berkelompok. Waktu menganyam pun fleksibel. Kalau ada upacara adat, kami tidak menganyam. Kalau pesanan banyak, kadang kami harus lembur,” ujar Wayan Piani, salah seorang penganyam.

Ia menuturkan desanya merupakan salah satu sentra penghasil bambu. Hal ini memudahkan para penganyam untuk mendapatkan bahan baku. Namun, bahan baku juga didatangkan dari luar desa. Bambu-bambu yang sudah siap anyam ini kemudian dijadikan berbagai bentuk barang.

“Kami biasanya membuat kepe, sokasi, wakul, dan kukusan. Proses pembuatannya tergantung ketersediaan bahan dan barang yang akan dibuat. Harga juga demikian. Tergantung tingkat kerumitan. Kepe harganya mulai Rp 40 ribu, sokasi mulai Rp 120 ribu tergantung ukuran, wakul mulai Rp 15 ribu,” imbuh Piani.

Hasil anyaman para ibu-ibu ini ada yang disetor ke pengepul dan ada yang dijual langsung karena pembeli datang ke rumah. Hasil penjualan bisa dipakai untuk menambah uang dapur.

Kini tak hanya kaum ibu-ibu yang menganyam. Anak-anak sudah mulai dikenalkan cara menganyam. Proses pembelajaran dilakukan saat anak-anak tidak ada kesibukan. Piani menambahkan para perajin sokasi ini juga belajar dari produk lain. Mereka menjadikan sokasi dari daerah lain yang sedang tren sebagai acuan. (Ngurah Budi)

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas