Kreasi

Kerajinan Flanel: Makin Sulit makin Mahal

kerajinan kain flanel yang siap di pasarkan

Bisnis kerajinan tangan tetap menjadi idola di tengah maraknya peluang bisnis modern. Usaha kerajinan tangan menempati segmen tersendiri, karena usaha ini bisa ditekuni tanpa modal besar. Dengan kreativitas dan keuletan, peluang usaha kreatif menjanjikan prospek yang cukup menarik. Salah satu jenis usaha kreatif yang masih diminati saat ini adalah bisnis kerajinan dari kain flanel. Banyak kreasi yang bisa diciptakan untuk menyasar berbagai segmen pasar, mulai dari anak-anak, remaja, hingga ibu rumah tangga.

Bisnis ini juga yang dilakoni oleh ibu muda Putu Ayu Sutriningsih. Berawal dari hobinya membuat kerajinan tangan, ia bertekad untuk membuat usaha Rumah Flanel Singaraja. Baginya, kain flanel merupakan kain yang memiliki tekstur lembut sehingga mudah dibentuk dan dikreasikan ke dalam berbagai bentuk menarik dan inovatif.

Berawal dengan modal yang sangat minim, Rp 300 ribu, perempuan kelahiran 27 April 1994 ini memulai bisnisnya kecil-kecilan. Seperti kerajinan flanel pada umumnya, ia memproduksi kerajinan berbagai bentuk gantungan kunci dan bantal, namun karena dirasa terlalu monoton, ia mencoba berkreasi dengan bentuk-bentuk yang lain. Perempuan yang akrab disapa Ayu ini mengaku belajar secara otodidak dengan mencari refrensi di internet. “Inovasi itu memang sangat perlu dilakukan, biasanya saya lakukan browsing di internet untuk menambah kreativitas,” jelasnya.

Terobosan demi terobosan ia lakukan untuk mengikuti pasar. Biasanya produk yang paling diminati berupa kerajinan bunga flanel yang dibentuk berbagai jenis bunga, baik berupa buket, flower in bag, flower box maupun dikreasikan dengan berbagai jenis pelengkap seperti boneka agar tampak lebih menarik. Ia tidak menampik, akan banjir orderan ketika ada momen-momen tertentu saja, seperti valentine dan acara wisuda. “Jika ada momen itu pasti sampai kewalahan melayani orderan dan butuh banyak tenaga,” jelasnya. Akan tetapi di luar dari momen itu, tidak jarang permintaan akan kerajinan bunga flanel akan menurun.

Untuk menyiasati hal tersebut, promosi makin ia gencarkan melalui media sosial. Selain itu, kreativitas juga selalu ia lakukan agar berbeda dengan usaha kerajinan kain flanel lainnya yang ada di Bali. “Kalau dari Singaraja yang fokus dengan usaha kain flanel memang baru usaha miliki saya saja, kalau yang lain hanya memproduksi ketika ada momen-momen tertentu saja,” jelasnya. Anggota dari Crafter Flower Maker ini juga mengaku jika selalu memproduksi kerajinan flanel sehingga ketika calon pembeli yang datang dapat langsung membeli barang yang sudah jadi.

Ditengah kesibukannya sebagai seorang ibu dan mahasiswa akhir yang sedang menyelesaikan skripsinya, tidak mudah memang membagi waktu antara bisnis dengan keluarga. Maka ia harus benar-benar pintar mengatur waktu sehingga semua bisa berjalan beriringan. Ditanya soal kendala, Ayu mengaku kesulitan bahan baku utama yaitu kain flanel. Minimnya toko yang menjual kain flanel di Singaraja membuat harus lebih sering ke Denpasar. Bahkan tidak jarang untuk mendapat kualitas yang lebih dan harga yang lebih murah ia harus memesannya ke luar Bali. “Kadang-kadang pesennya di luar Bali secara online, karena di sini jenisnya kurang lengkap,” imbuhnya.

Rata-rata kerajinan yang ia jual dengan harga mulai Rp 100 ribu hingga Rp 350 ribu tergantung besar kecilnya dan kualitas bahan yang digunakan. “Kami jual produk handmade, jadi makin sulit tingkat pengerjaanya makin mahal juga harga yang kami tawarkan,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas