Bugar

Sehat saat Puasa

Dr. dr. Gde Ngurah Indraguna Pinatih, Sp.Msc, Akp, Sp.GK.

Saat ini umat Muslim sedang melakukan ibadah puasa. Apa saja yang harus diperhatikan, agar tetap sehat  saat puasa? Menurut Dr. dr. Gde Ngurah Indraguna Pinatih, Sp.Msc, Akp, Sp.GK., berpuasa menahan lapar dan haus selama lebih kurang 12 jam, selama sebulan. Walaupun begitu, puasa memiliki manfaat bagi kesehatan, jika dijalankan dengan cara yang tepat dan sehat pula.

“Kalau dilihat dari kehidupan sehari-hari, saat puasa itu tidak ada bedanya  hanya beda jam makannya.  Biasanya, manusia bangun pagi makan, setelah malam  selesai  makan, dia tidur dan berpuasa sampai  esok harinya.   Yang beda, biasanya orang puasa sambil tidur.  Tapi  dalam puasa religi ini orang berpuasa sembari beraktivitas,” ujarnya.

Ia mengatakan, dari  kebutuhan nutrisi tidak banyak berbeda. Dalam arti, dia bisa mengisi  kebutuhannya selama periode dari buka puasa sampai sahur  rentang waktu pukul 19.00 sampai sahur pukul 04.00.  Namun, sering  terjadi pada orang  yang berpuasa, mengubah pola makan, kondisi saat buka puasa,  seperti orang yang dipenjara kemudian dilepas.  Mereka makan sangat banyak, akhirnya, overdosis.  Menurutnya, perlakuan  ini tentu saja salah.  “Kalau  biasanya kita bangun pagi,  minum air dulu, beberapa saat kemudian makan. Makan yang ringan dulu, kemudian yang berat. Seharusnya, saat berbuka puasa juga sama,” saran dr. Indraguna Pinatih.

Kalau tidak hati-hati saat berbuka,  memasukkan makanan terlalu banyak akan mengagetkan  tubuh.  Cara yang baik, minumnya pun  bertahap karena perut masih kosong, enzim sedang menurun. Selang beberapa saat baru makan agak besar.

Ada yang menyarankan, untuk makan manis dulu, saat berbuka puasa.  “Manis itu yang bagaimana,  dan tujuannya manis itu untuk  apa. Sama seperti bangun tidur,  sebaiknya minum dulu. Pilihlah cairan yang sifatnya isotonik, bisa air putih biasa, jus encer  jus pepaya,  atau air kelapa.  Tujuannya  untuk mengisi kekurangan cairan saat puasa.  Setelah itu baru makan sedikit, tujuannya, membangkitkan lambung  yang istirahat. Setelah lambung siap, baru makan besar,” saran ahli gizi FK Unud ini.

Seperti manusia yang makan tiga kali sehari  sesuai kebutuhan, sama juga ketika berpuasa, kita bisa mengubah jam makan kita. Mulai makan  dari buka puasa  sampai makan terakhir  waktu sahur. “Untuk kebutuhan kalori, orang menghitungnya  24 jam, boleh tiga kali makan, boleh dua  kali makan, boleh juga  10 kali makan.  Pola makan ini diatur mulai waktu berbuka puasa sampai sahur,” ucapnya.

Terkadang, ada  yang kelupaan sahur. Bagaimana daya tahan tubuhnya saat berpuasa?  Sebenarnya, kalau saat berbuka dia sudah makan banyak dan kelupaan sahur,  tidak menjadi masalah.  Memang, diakuinya, orang  yang sarapan  memiliki konsentrasi lebih tinggi.   Namun, pertanyaannya  sarapannya  apa? Kita lihat orang-orang  zaman dulu  saat bangun tidur  mereka hanya minum kopi. Kemudian, mereka baru makan pukul 10.  Mereka mampu berkonsentrasi selama dua jam. Mungkin yang minum kopi ditambah dua tangkup roti   bisa berkonsentrasi sampai pukul 12 siang.  Ini ngomongnya soal konsentrasi. Kembali ke soal puasa, kata dia, saat puasa, biasanya banyak yang mengurangi aktivitas. Terkadang, jika mereka kelupaan sahur, dan sudah makan banyak rentang waktu berbuka sampai sahur, tentu tidak masalah.  Ukuran  yang dipakai menghitung adalah 24 jam. Saat berpuasa, biologic clock yang diubah sehingga intinya kalau mereka tidak sahur, sama artinya mereka tidak makan malam.

Sampai saat ini, ia belum pernah  mendengar ada laporan kalau  berpuasa  mengakibatkan sakit.  Satu atau dua hari memang ada penyesuaian dengan tubuh, namun, setelah itu tubuh akan menyesuaikan diri. “Puasa  yang dilakukan dengan benar, artinya, saat berbuka dan sahur mengonsumsi makanan sehat, tentu akan memberikan dampak yang baik pula. Sebenarnya, kalau dilihat dari segi gizi tidak ada yang  akan berubah.  Puasa juga tidak membuat tubuh kurus,” katanya.

Manfaat kesehatan secara umum  harus dilihat dari  jumlah  dan jenis makanan yang dimakan. Nutrisi yang diperlukan tubuh sangat beragam, karena tidak ada satu jenis makanan saja yang bisa memenuhi semua kebutuhan nutrisi itu. Perlu lebih cermat dalam memilih jenis makanan untuk berbuka dan sahur.   “Kecenderungan saat  buka puasa, makanan menjadi lebih mewah. Seharusnya tidak begitu, pola hidupnya  juga harus biasa saja. Sesuai dengan aturan. Puasa ini lebih pada pengendalian emosi,” katanya.

Kebutuhan kalori dihitung berdasarkan umur, berat badan, tinggi badan, jenis kelamin,  dan aktivitas. Ia memberi tips, makanlah dengan porsi yang normal, jangan berlebihan. Fokuslah mengonsumsi makanan yang kaya  akan karbohodrat kompleks dan protein serta buah dan sayuran. Menyantap makanan yang mengandung banyak air selama sahur juga sangat baik untuk mencegah dehidrasi tubuh. Jika ingin olahraga lakukan olahraga  yang ringan,  seperti jalan santai. (Wirati Astiti)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

To Top