Sosialita

FH Undikas Raih Akreditasi A Mahasiwanya Berprestasi di Kancah Internasional

Akhirnya FH Undiknas berhasil  meraih akreditasi dengan nilai A. Hal ini membuktikan kelayakan program studi FH Undiknas telah sesuai kriteria yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Diantaranya kualifikasi dosen yang sebagian besar doctor, memiliki jabatan lektor kepala dan guru besar, dosen menulis pada jurnal internasional, jurnal terakreditasi nasional, menulis buku yang diterbitkan serta melakukan penelitan yang dibiayai Kemendiknas.
Menurut Dekan FH Undiknas Dr. A.A.Ayu Ngurah Sri Rahayu Gorda, S.H.,M.M.,M.H. bukan hanya itu prosesnya, ada sarana-prasarana yang memadai, alumni yang sangat aktif.  prestasi mahasiswa di tingkat nasional dan internasional pun menjadi poin penunjang. Kualitas proses pembelajaran, kurikulum, rencana perkuliahan semester (RPS),  modul perkuliahan, pengabdian masyarakat atau singkatnya Tri Dharma Perguruan Tinggi  yang tidak terlepas dari Visi Misi Universitas dan Fakultas.
Diakuinya bahwa perolehan akriditasi A tersebut, karena kehebatan team work dari Tim Akriditasi Fakultas, dukungan pihak Perdiknas, Universitas dan yang pasti dukungan penuh semangat dari seluruh dosen serta mahasiswa FH Undiknas. “Tanpa itu semua mustahil kami memperoleh nilai Akreditasi A. Namun, capaian ini, bukan akhir dari sebuah proses, sebaliknya ini adalah awal dari perjuangan kami untuk mempertahankan dan pembuktian bahwa FH Undiknas layak mendapat Akreditasi A,” tandas Gung Sri.

 

Journey of Undiknas di Hongkong, Belanda, Turki, Korea Selatan, dan Jepang

Tahun 2016 adalah langkah awal Fakultas Hukum Undiknas melebarkan sayap mencatatkan namanya di kancah internasional. Setelah meraih juara 2 pada Kompetisi Karya Tulis di Mahkamah Konstitusi RI bekerja sama dengan Universitas Udayana, untuk pertama kalinya, mahasiswa Jurusan Hukum Bisnis FH Undiknas, atas nama Made Artha Dermawan (19) lolos sebagai delegasi Republik Indonesia  mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa atau ASEAN Student Exchange 2016 selama tiga bulan di City University of Hong Kong.

Program yang digagas The Asian Foundation ini merupakan program kepemudaan yang memfasilitasi berbagai program kebudayaan dan kepemudaan bagi seluruh pemuda-pemudi lintas benua Asia. Program ini dimulai pertengahan Oktober  2016 dan berakhir awal Januari 2017.

Artha, begitu sapaannya berkesempatan mengikuti kegiatan perkuliahan di bidang hukum dengan mahasiswa semester V di City University of Hong Kong dan menambah wawasan di bidang Company Law, International Trade Law, Legal English, Negotiation, Business Litigation, dan Hong Kong Taxation. Maka, melalui kegiatan Student Exchange ini pula  FH Undiknas kembali menambah jaringan akademiknya di kancah internasional.

Berikutnya Artha juga berhasil diundang menjadi Delegasi RI mengikuti Program The World Crime and Criminal Justice Workshop 2017 di Leiden University, Belanda, setelah melalui proses seleksi administrasi dan akademik yang ketat. Program berlangsung dua minggu pada Februari.Selain itu ia pun berhasil menjadi peserta kegiatan workshop internasional yang dihadiri perwakilan mahasiswa dan akademisi dari berbagai negara di dunia.

Di sana dibahas  perkembangan dan permasalahan criminal justice di Belanda dan di dunia. Diakhir acara , Artha sempat menjelajahi beberapa negara di benua Eropa dan menikmati indahnya musim dingin di negara tersebut.

Sebulan setelahnya, melalui proses pengiriman abstrak karya tulis bertema “Higher Education Enterprise: The Importance of University and its Contribution for the Society.” Sosok kelahiran 7 Mei 1998 yang saat ini duduk di semester VII tersebut kembali menorehkan prestasi sebagai perwakilan Indonesia mengikuti Program Youth Education and Entrepreneurship Summit Turkey 2017 yang diadakan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki bekerjasama dengan Pemerintah Turki dan beberapa universitas di sana. Kegiatannya , kata Arta bakal berlangsung di Kota Istanbul, Turki pada pertengahan  September  mendatang .

Sementara itu, Pipin Carolina BR Barus juga menuai prestasi. Mahasiswi yang satu ini, sejak di bangku SMA, sudah sangat tertarik terhadap Bahasa Inggris. Bahkan ia sempat dipercaya menjadi ketua English Club di SMAN 1 Kuta dan  memenangkan beberapa perlombaan Bahasa Inggris. Bahkan hingga kini kecintaan pada bahasa Inggris terus ditekuninya.

Didukung ilmu yang dimiliki, selama kuliah di FH Undiknas, gadis kelahiran 23 Mei 1997 ini  lolos seleksi dan bangga menjadi bagian dari Asia Student Summit 2017 in Seoul. “Dari total 1000 pendaftar, hanya 200 peserta yang lulus, dan 60 peserta menjadi delegasi Asia Student Summit. Beruntung, saya bersama Ryan Hendrich Wijaya juga mahasiswa FH Undiknas  lolos menjadi delegasi ASS 2017. Selain itu, Ryan juga mendapat penghargaan  “The Most Outgoing Man”,” ungkap  Pipin yang beberapakali menang lomba debat ini.

Koordinator debat KOMIK Undiknas ini juga mengatakan selama di Seoul, ia sempat mengunjungi kampus besar, seperti Kyunghee University, Seoul,  National University, dan Yonsei University. “Kami juga sempat melakukan diskusi panel bersama delegasi lain serta pembicara seperti penulis buku sekaligus guru di Korea, Aulia Djunaedi, profesional dentist Rya Aryani H., Co-Founder and CTO at Team Mondrian (Mikael Fernandus), CEO at JobFindr (Craig La Touche), Artist & Creator of The Nicholalala Webtoon on Line Webtoon (Nichola Gwon),” paparnya sambil mengatakan ia pun diberi kesempatan mengobservasi pendidikan di Seoul..

Pipin yang selama di Seoul, pada hari ke-4, bersama  Ryan, berpartisipasi dalam “Culture Performance”, menampilkan lagu tradisional Bali berjudul “Bungan Sandat”, di hadapan masyarakat Korea.” Sebagai bentuk apresiasi terhadap penampilan kami, para tamu undangan pun menyemati kami dengan pin  Asia Student Summit,” pungkasnya .

Begitu juga dengan Ida Ayu Ita Utari, mahasiswa Fak. Hukum, anggota Perhimpuan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi) DPC Bali ini, lolos mengikuti World Student Summit 2017 di Tokyo, Jepang  pada Juli 2017. Kegiatannya ini merupakan momen generasi muda menjadi agen perubahan.

Di sana nanti ia akan memberikan ide, gagasan, inovasi dan pemikiran tentang isu-isu yang sedang dibicarakan dunia, baik itu dari teknologi, pengetahuan baru, wirausaha dan kemanusiaan.

Purnapaskibra Kota Denpasar ini merasa sangat bersyukur, sebab ia menjadi salah satu dari 50 delegasi dari seluruh dunia yang mendapat kesempatan berbicara dalam Symposium International dengan tema “Culture Humanity”. Kegiatan World Student Summit 2017 “World Innovation Forum Tokyo” ini berlangsung selama sepekan yakni  12 – 19 Juli 2017.

Dikatakannya bahwa kriteria yang harus dipenuhi untuk diterima menjadi salah satu delegasi yakni mengisi letter of motivation yang disiapkan oleh panitia penyelenggara, mengumpulkan paper dengan mengangkat salah satu isu yang sedang dibicarakan di seluruh dunia. Dan, pastinya harus cakap berbahasa Inggris. Sebab, tak dipungkiri bahasa Inggris merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi untuk mengikuti kegiatan ini,” tutur anggota Paguyuban Miss Internet Bali ini.

 – ard

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

To Top