Mozaik

Peluncuran Metodologi HCS Approach dan Toolkit Versi 2.0

Penghancuran hutan untuk perkebunan kelapa sawit,  kertas, dan karet yang berdampak  pada ancaman  punahnya berbagai makhluk hidup dan merupakan  sebuah bencana bagi masyarakat  lokal dan berkontribusi para perubahan iklim yang dasyat.  Namun, delapan tahun terakhir dapat terlihat adanya  transformasi pada rantai komoditas global  untuk memutus hubungan  dengan praktik-praktik pembabatan hutan.  Saat ini, sudah ada kesepakatan  global diantara perusahaan, lembaga penelitan,   LSM di bidang konservasi  dan lingkungan, pemerintah, dan masyarakat yang bergantung pada hutan, bahwa penggundulan hutan harus dihentikan.

Sebuah metodologi gabungan baru yang berlaku secara global  untuk melindungi hutan  alam dan mengindetifikasi lahan-lahan yang dapat diolah sebagi areal produksi komoditas secara bertanggungjawab, telah diluncurkan koalisi antara industri dan organisasi non pemerintah (LSM), hari ini ( Rabu (3/5) di Jimbaran.

High Carbon Stock ( HCS) approach toolkit merupakan sebuah terobosan  bagi berbagai perusahaan, masyarakat, institusi, dan praktisi teknis yang memiliki komitmen bersama untuk melindungi hutan alam yang tengah mengalami regenerasi. Toolkit atau alat ini merupakan upaya  kolaborasi  bersama antara  perusahaan, NGO, dan organisasi pendukung teknis,  untuk menghasilkan sebuah pendekatan  yang dapat diterapkan  secara luas di kawasan hutan tropis di dunia.

“Membiarkan deforestasi  atau pembabatan hutan alami demi perkebunan sudah merupakan suatu hal di masa lalu. Kami meluncurkan sebuah toolkit dengan metodologi yang memberikan panduan  teknis yang praktis dan terbukti kuat secara ilmiah, untuk mengindektifikasi dan melindungi hutan alam tropis,” kata Grant Rosoman selaku co-chair dari High Carbon Stock ( HCS) Steering Group.

Ia mengatakan, selama dua tahun, para pemangku kepentingan telah menyatukan berbagai upaya untuk menyepakati satu-satunya pendekatan global untuk menerapkan praktik non-deforestasi. Metodologi yang  dihasilkan telah memperluas persyaratan sosialnya, pengenalan dan penerapan terhadap data cadangan carbon, yang mencakup teknologi  baru termasuk penggunaan LIDAR untuk mengoptimalkan konservasi dan hasil produksi serta dapat diadaptasi bagi petani-petani kecil.

Pada pertemuan ini, para angota yang hadir,  bersatu dalam menanggapi meningkatnya kekhawatiran akan dampak  pembabatan hutan alam tropis terhadap iklim, satwa, dan hak-hak masyarakat yang mengantungkan hidupnya pada hutan.  “Kami menyambut baik  positif diterapkannya metodologi ini dalam skala yang luas untuk mendukung hak-hak dan mata pencaharian masyarakat lokal, menjaga kadar karbon hutan dan keanekragaman hayati serta kegiatan pengembangan terhadap lahan-lahan olahan secara bertanggungnjawab,” tambahnya.

Versi pertama dari HCS Approach Toolkit sebelumnya telah dirilis April 2015. Versi baru yang telah disempurnakan, Versi 2.0,  yang dirilis pada pertemuan ini,   telah meliputi penelitian ilmiah terbaru, evaluasi dari percobaan lapangan, serta topik-topik baru dan masukan dari berbagai kelompok kerja HCS Approach Steering Group, sebuah organisasi  yang keanggotaan yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan yang mengatur HCS Approach.

Toolkit  baru ini juga menyajikan penyempurnaan, penambahan dan perubahan penting pada metodologinya sebagai  hasil dari kesepakatan konvergensi antara HCS Approach dan HCS Study, pada November 2016.  Dengan telah dilengkapinya  HCS Approavh Toolkit versi 2.0. HCS Steering Group saat ini dapat focus pada uji coba metodologinya, agar dapat disesuaikan bagi para petani kecil, serta memperkuat persyaratan sosial yang dikembangkan sebagai bagian dari proses konvengensi HCS.

Tentang High Carbon Stock Approach

High carbon Stock (HCS) Approach adalah sebuah metodologi yang dapat membedakan antara area-area hutan yang perlu dilindungi dengan lahan-lahan yang memiliki kadar karbon dan keanekaragaman hayati yang rendah, sehingga dapat diolah. Metodologi tersebut dikembangkan dengan tujuan untuk memastikan sebuah pendekatan yang praktis, transparan, kuat, dan terjamin secara ilmiah, yang dapat diterima kalangan  untuk mengimplemnetasikan komitmen-komitmen dalam menghentikan penggundulan hutan tropis, sementara menjaga agar hak-hak dan mata pencaharian masyarakat lokal tetap dihormati. HCS Approach pada mulanya dikembangkan Godlen Agri-Resources (GAR) berkolaborasi dengan Greenpeace dan TFT pada tahun 2011-2012. Sejak November 2016, HSC Approach mencakup konvergensi dengan hanya satu metodologi  HCS global.

Tentang HCS Approach Steering Group

HCS Approach Steering roup adalah sebuah organsiasi yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan yang dibentuk tahun 2014 untuk mengelola HCS Approach. Steering group (SG) dibentuk agar dapat mengawasi pengembangan selanjutnya dari metodologi tersebut, termasuk penyempurnaan terhadap definisi, objektif, dan hubungan dengan pendekatan-pendekatan lainnya, untuk  menghentikan praktik penggundulan hutan. –Wirati Astiti

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

To Top