Calendar Date

Sep
09
2010
  • Advertisement
  • Advertisement

Berlangganan Koran Tokoh
Setahun Rp 90.000 + Ongkos Kirim
6 Bulan Rp 60.000 + Ongkos Kirim

Hubungi: Pipit/Ayu (0361) 425373, sms ke Sepi (0361) 7402414

Advertiser

sale
Love Story H. Roichan dan Sri Rahayu Ilyas., M.Pd. (4-Habis) PDF Cetak
Senin, 08 Februari 2010
ImageKeluarga, Harta paling Berharga Duhai bulan pantulkan salam rinduku pada Yariku Bayang-bayang ombak yang memecah pantai Ibarat jari tanganmu yang hendak menggapai diriku Dan, ingin rasanya diri ini berlari menemuimu Sebait puisi itu dituangkan Roichan lewat sebuah goresan di secarik kertas putih. Suasana malam di Pantai Soka, Jembrana, yang disinari bulan purnama kala itu memberikan inspirasi bagi Roichan menulis surat untuk kekasih hatinya, Sri Rahayu. Malam itu Roichan sedang melakukan perjalanan panjang naik bus jurusan Yogyakarta – Denpasar. “Tahun 1968 saya berangkat ke Bali, kota tujuan saya, Denpasar. Sebelum berangkat ke Bali, ada surat tugas bahwa saya akan ditempatkan sebagai pegawai di Departemen Agama Provinsi Bali,” katanya.

Di sepanjang perjalanan, hanya ada Sri Rahayu Ilyas dalam pikirannya. Maklum, sejak jatuh cinta pada putri R. Ilyas (alm) itu, Roichan tak pernah berada jauh dari sisi Rahayu. “Timbul ide, setelah sampai Denpasar saya akan segera mengembangkan sebait puisi itu menjadi surat cinta yang akan saya kirim ke Yogyakarta untuk Ibu,” kisah pria kelahiran Yogyakarta, 19 Juli 1948 ini.

Roichan mengawali karier sebagai pegawai Inspeksi Pendidikan Agama di Departemen Agama Provinsi Bali. Sore harinya, ia juga ditugaskan mengajar Agama Islam di beberapa sekolah. “Awalnya saya mulai mengajar di Sekolah Pendidikan Guru Negeri (SPGN) Denpasar, kemudian Sekolah Farmasi Saraswati, Sekolah Guru Olahraga, SMAN 2 Denpasar. Tahun 1984 hingga kini menjadi guru agama di SMAN 4 Denpasar,” tambah pensiunan Pengawas Pendidikan Islam SMP/SMA Departemen Agama Provinsi Bali ini.

Di tengah kesibukannya mengajar di sekolah menengah pertama dan atas, H. Roichan juga pernah mengajar di Taman Kanak-kanak enam bulan. “Pengalaman itu sangat berharga,” ujarnya.
Selama berada di daerah perantauan, tempat tinggalnya tidak menetap. Awalnya ia menumpang di rumah temannya selama  beberapa bulan hingga Roichan memilih indekos. Beban keuangannya berkurang, ketika Roichan mendapatkan tawaran bertempat tinggal di mess guru SD/SMP Muhamadiyah Denpasar.

Suasana mess tersebut sepi. “Kebetulan saya menyukai tempat yang sunyi penuh ketenangan,” katanya. Saat kerinduannya pada Rahayu sudah memuncak, tak segan-segan Roichan berteriak, menyanyikan lagu kerinduan untuk Rahayu. “Gara-gara teriakan saya, pengghuni mess terkejut dan bangun dari tidur,” kisahnya.

Tiap rasa rindu yang menyelimuti hatinya, ia obati dengan menuliskan surat cinta yang ia kirim buat Rahayu di Yogyakarta. Biasanya surat itu ia layangkan tiap dua atau tiga bulan sekali.
Di Yogyakarta, Rahayu ternyata memiliki kisah yang sama dengan kakak perempuannya yang juga menjalani kisah cinta jarak jauh. “Calon suami kakak saya juga tengah melanjutkan pendidikan di Institut Tinggi Bandung,” tutur Rahayu. Sama-sama ditinggal kekasih, memberikan sebuah pengalaman unik bagi keduanya. Tak hanya Roichan yang kerap mengirimkan surat buat Rahayu. Kakak Rahayu pun juga mendapatkan surat cinta dari pujaan hatinya. “Kala itu, saya tak ingin kalah saing dengan calon kakak ipar Ibu. Dalam surat selalu saya bubuhkan puisi, pantun, atau kata-kata romantis yang membuat Ibu selalu menantikan kedatangan surat-surat cinta saya,” katanya.  

37 Tahun Menikah
Aktivitas yang padat membuat Roichan lama tak pulang ke kampung kelahirannya. “Saya pulang ketika lebaran atau saat ada acara keluarga,” katanya. Momen itu tentu saja ia manfaatkan untuk bertemu pujaan hatinya, Rahayu.

Sejak awal kepergiannya dari Yogyakarta ke Bali, lima tahun sudah Roichan harus merajut kisah cinta yang terhalang Selat Bali. Timbul keinginan segera meminang kekasihnya itu. “Saat itu Ibu sudah menjadi sarjana muda IKIP Negeri Yogyakarta. Apalagi kakak perempuan Ibu saat itu juga sudah menikah. Ini momen yang tepat,” pikir Roichan kala itu.
Keputusannya menikah juga didasari banyaknya tawaran dan godaan selama ia berada di Bali. “Banyak teman berniat mencarikan pendamping hidup karena mereka belum tahu saya sudah punya calon istri,” katanya.

Roichan segera bertolak ke Yogyakarta. Maksud hatinya ia sampaikan kepada kedua orangtuanya. “Orangtua saya memang belum tahu saya sudah lama menjalin kisah cinta dengan Rahayu. Rasa kaget bercampur senang menyelimuti hati keduanya. Mereka setuju niat saya melamar Rahayu,” katanya.

Prosesi lamaran berjalan lancar. Enam bulan setelah peristiwa lamaran, tepatnya 20 Januari 1973, dengan prosesi adat Jawa, Roichan resmi mengucapkan ijab kabul di hadapan penghulu.
“Saya boyong Ibu ke Bali,” katanya. Pasangan pengantin baru ini menempati losmen sebagai tempat tinggalnya.  Oleh karena merasa sempit, akhirnya mereka menempati rumah di atas tanah kontrakan. “Setelah lama bertempat tinggal di rumah itu, akhirnya kami memilih mencicil rumah di Perumnas Monang-Maning hingga kini,” katanya.

Kesibukan Roichan bertambah. Ia tak hanya sebagai guru dan pegawai di Departemen Agama Provinsi Bali. Roichan juga aktif beraktivitas di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali. “Hingga kini sudah 25 tahun saya bergabung dalam kegiatan MUI,” katanya.

Rahayu pun memiliki kesibukan serupa. Sembari mengasuh dan mendidik empat buah hatinya, ia juga banyak menghabiskan waktunya mengajar di beberapa sekolah. Ia mengajar Bahasa Jerman, kesenian, dan pernah menjadi asisten dosen Bahasa Jerman di Unud.
Dalam usia perkawinannya yang telah menginjak 37 tahun. Roichan bisa tersenyum lega. Empat buah hatinya telah memiliki latar belakang pendidikan sarjana. Keempatnya pun telah menikah dan dikaruniai momongan. “Keluarga adalah harta kami paling berharga,” ujarnya.—lik.
Comments (2)Add Comment

Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger

busy
Terakhir Diperbaharui ( Senin, 08 Februari 2010 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Advertisement
 

Usaha

article thumbnailIndustri Tenun perlu Generasi Muda yang Produktif

Senin, 30 Agustus 2010

Mengunjungi Sentra Industri Kerajinan di Gianyar . Jika hanya mengandalkan teknik produksi tradisional tenun cagcag tidak akan mampu memenuhi pasar. Untuk itu, perlu pengembangan tenun ikat...

Artikel lainnya

Keluarga

article thumbnailLove Story (2) Komjen Pol Made Mangku Pastika dan Ni Made Ayu Putri Pastika

Senin, 30 Agustus 2010

Mengayuh Biduk Rumah Tangga. JODOH alumnus Akabri Kepolisian Made Mangku Pastika sudah digariskan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Sosok Ni Made Ayu Putri, adik kandung sobatnya semasa...

Artikel lainnya