Calendar Date

Sep
09
2010
  • Advertisement
  • Advertisement

Berlangganan Koran Tokoh
Setahun Rp 90.000 + Ongkos Kirim
6 Bulan Rp 60.000 + Ongkos Kirim

Hubungi: Pipit/Ayu (0361) 425373, sms ke Sepi (0361) 7402414

Advertiser

sale
STORI Akiko Matsubara (5) Cita-citanya Jadi Lawyer PDF Cetak
Senin, 08 Februari 2010
ImageSEORANG lelaki melangkah keluar halaman rumah sederhana I Wayan Rai di Banjar Tabola, Desa Tegaltawang, Kecamatan Sidemen, Karangasem.  Wajahnya menebar senyum sumringah. Si empunya rumah mengiringi tamu istrinya ini hingga sosok lelaki itu lenyap di balik tembok pagar kediamannya.

Lelaki itu berasal dari sebuah kota kecil di Bali. Maksud kedatangannya ingin menemui Akiko Matsubara. Perempuan berdarah Jepang yang diperistri Wayan Rai ini hendak dimintai tolong membaca nasibnya, sekaligus memberikan solusi masalah yang dihadapinya.
“Saat bertemu saya wajahnya tampak kusut. Dia sepertinya sedang menghadapi masalah berat. Setelah dibaca garis tangannya, saya melukiskan dirinya sedang menghadapi masalah.

Lelaki ini tak menampiknya. Saya kemudian menganjurkan menempuh jalan keluar tertentu. Ternyata, anjuran saya persis seperti yang dikehendakinya. Maka, saat pulang, wajahnya langsung tampak ceriah. Dia sepertinya sudah tahu apa jalan keluar yang harus diambilnya untuk memecahkan masalah pribadi dalam hidupnya,” papar ibu satu anak, I Kadek Namiasa (9), yang mahir membaca garis tangan manusia ini.

Pria separuh baya itu tercatat sebagai salah seorang dari ratusan orang yang telah berjumpa Akiko untuk maksud serupa. Menurut Akiko, sejak keahlian spesialnya ini dimuat Koran Tokoh, banyak orang yang berusaha berjumpa dengan dirinya. Ada sebuah keluarga yang datang dari Tabanan. Sebelum tiba di rumah Akiko, mereka mampir ke Mengwi (Badung), Denpasar, dan Klungkung. Tujuannya, mereka telah janjian berangkat bareng dengan sanak famili yang berdomisili di tiga kabupaten itu.

Ada pula kisah menarik sebuah keluarga dari Lombok, NTB. Mereka berangkat bermobil dari seberang pulau menuju rumah Akiko. “Saya dan suami kebetulan sedang siap-siap keluar rumah. Saat sepeda motor yang dikemudikan suami hendak keluar pintu halaman rumah, mendadak rombongan keluarga tadi muncul dari balik tembok pagar. Salah seorang dari mereka menuturkan hendak bertemu saya. Mereka sengaja datang dari Lombok untuk minta saya baca garis tangannya masing-masing,” kisah Akiko sambil tersenyum simpul.

Rombongan keluarga asal Lombok ini mengaku hati kecil mereka berbunga-bunga. Kabar kemahiran Akiko membaca garis tangan semula mereka ketahui saat membaca Koran Tokoh di kampung halamannya di Lombok. “Mereka berusaha mencari kesempatan agar bisa berangkat ramai-ramai menemui saya di Sidemen. Mimpi mereka akhirnya terwujud. Masalah yang mereka hadapi juga sudah saya utarakan setelah membaca garis tangan masing-masing. Mereka mengaku puas dan pulang dengan wajah berbinar,” ujar Akiko.

Cerita demi cerita Akiko semacam ini memang bukan hanya dialami saat ia menjadi bagian keluarga besar suaminya di pelosok dusun Karangasem itu. “Banyak cerita menarik yang saya alami selama membantu orang lain melalui kemahiran saya membaca garis tangan ini,” katanya.
Saat masih bermukim dengan keluarganya di Jepang, Akiko pun mempraktikkan bakat khususnya ini. “Awalnya saya membaca garis tangan saudara, orangtua, maupun sanak famili lainnya di Jepang,” jelasnya.

Ada kisah mengesankan yang masih tersimpan bagus di memorinya. Saat itu dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar (shogakkou). “Saya membaca garis tangan kakek saya. Dari situ, saya mengatakan, kakek pernah mengalami hidup susah ketika masih bocah. Namun, hidupnya senang setelah menginjak dewasa. Kakek saya mengangguk-angguk kecil sambil tersenyum. Saat saya tanyakan hal ini kepada Ibu, ternyata omongan saya dibenarkan Ibu,” ungkapnya.

Bakat Akiko membaca garis tangan ini lambat-laun mendapat angin segar dari orangtua dan kakeknya. Namun, Akiko selalu diingatkan tak boleh mengabaikan masa depan pendidikannya. “Saya harus tetap sekolah. SD saya waktu itu di Iwase Shogakkou. Iwase ini nama desa, shogakkou berarti sekolah dasar. Saat itu, saya bercita-cita menjadi lawyer,” kisahnya.

Tamat Sekolah dasar, Akiko melanjutkan ke bangku SMP (chugakkou). “Saya sekolah di SMP yang berada di Iwase Barat. Makanya, nama sekolah saya Iwase Misi Chugakkou,” jelasnya.
Prestasinya di sekolah tak mengecewakan. Kebiasaan gemar membaca buku senantiasa mewarnai kehidupan sehari-harinya. “Saya suka membaca berbagai macam buku, termasuk biografi orang-orang terkenal di Jepang maupun tokoh dunia. Mungkin ini yang juga membuat prestasi saya di sekolah tidak jelek. Saya minimal masuk lima besar di sekolah, saat masih di SD maupun ketika duduk di bangku SMP,” ujar mantan wakil ketua OSIS-nya Jepang saat masih duduk di bangku SMP ini.

Berkat aktivitasnya selama menjadi aktivis organisasi intrasekolah semasa SMP itu, Akiko mulai mengenal dunia demokrasi. Pengurus OSIS dipilih melalui pemilihan langsung oleh ratusan siswa di sekolahnya. “Tetapi, calon pengurus harus berkampanye dulu seperti seorang calon pemimpin di Indonesia. Tiap calon menyampaikan visi dan misinya di depan calon pemilih,” ujarnya.

Wakil siswa yang terpilih menjadi pengurus OSIS pun tak hanya ‘nampang doang’ di struktur kepengurusan lembaga ini. “Sebagai wakil siswa, pengurusnya memperjuangkan sungguh-sungguh aspirasi semua murid di sekolah. Pengurus OSIS bahkan bisa berdebat sengit dengan guru pembina OSIS jika saluran aspirasi siswa macet. Saya beruntung pernah menjadi wakil ketua organisasi siswa di SMP, sehingga bisa mengenal apa yang sekarang disebut sebagai demokrasi itu” katanya. —sam

Comments (1)Add Comment

Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Advertisement
 

Usaha

article thumbnailIndustri Tenun perlu Generasi Muda yang Produktif

Senin, 30 Agustus 2010

Mengunjungi Sentra Industri Kerajinan di Gianyar . Jika hanya mengandalkan teknik produksi tradisional tenun cagcag tidak akan mampu memenuhi pasar. Untuk itu, perlu pengembangan tenun ikat...

Artikel lainnya

Keluarga

article thumbnailLove Story (2) Komjen Pol Made Mangku Pastika dan Ni Made Ayu Putri Pastika

Senin, 30 Agustus 2010

Mengayuh Biduk Rumah Tangga. JODOH alumnus Akabri Kepolisian Made Mangku Pastika sudah digariskan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Sosok Ni Made Ayu Putri, adik kandung sobatnya semasa...

Artikel lainnya