Calendar Date

Sep
09
2010
  • Advertisement
  • Advertisement

Berlangganan Koran Tokoh
Setahun Rp 90.000 + Ongkos Kirim
6 Bulan Rp 60.000 + Ongkos Kirim

Hubungi: Pipit/Ayu (0361) 425373, sms ke Sepi (0361) 7402414

Advertiser

sale
Bagaimana Membangun Nusa Penida PDF Cetak
Senin, 08 Februari 2010
ImageBANYAK ahli mengatakan, pembangunan merupakan proses berkesinambungan. Proses berkesinambungan itu saya tambahkan sehingga menjadi “proses berkesinambungan yang terjadi di berbagai dimensi”. Definisi pembangunan terakhir ini mengantar kerangka pikir tentang pembangunan ke suatu ruang tertentu, bahkan ke berbagai sektor yang sifatnya lebih operasional. Kalau pembangunan didefinisikan sebagai proses, realisasinya bisa terjadi pada upaya membangun sesuatu, berbeda dengan apa dan di mana membangun.
Salah satu penentu sukses-tidaknya pembangunan yang bisa dilakukan kapan saja, di mana, dan apa pun yang akan dibangun, adalah kreativitas.

Dengan membawa kerangka pikir definisi pembangunan tadi, kita harus melakukan tahapan-tahapan kreativitas. Pertama, mengamati apakah ada peluang untuk melakukan perubahan. Jika tidak ada, berarti sama dengan fenomena positif. Jika ada, berarti sama dengan fenomena negatif. Fenomena positif berarti suatu keadaan sesuai atau searah dengan tujuan manusia umumnya. Fenomena negatif, berarti sebaliknya. Fenomena positif maupun negatif, memerlukan perubahan dan pasti akan mengalami perubahan, karena faktor dimensi waktu, ruang, perilaku atau sifat manusia.

Kedua, memikirkan apa yang harus dilakukan untuk perubahan, bagi fenomena positif maupun negatif. Di sini akan tampak, jenis dan kualitas kreativitas manusia, sebagai pejabat daerah maupun sebagai warga masyarakat yang hidup dalam ruang tersebut. Jika pimpinan daerah tidak memiliki visi dan misi pembangunan, daerah yang dipimpinnya tidak akan menampakkan perubahan, karena tidak akan mungkin dapat mengoperasionalkan aktivitas yang bermuatan kreativitas. Pimpinan daerah yang memiliki paham pembangunan yang kreatif, akan terjadi perubahan yang terukur dengan nilai kreativitas. Nilai kreativitas tersebut dapat diukur dari satuan nilai efisiensi dan efektivitas.

 Ketiga, melakukan aksi yang diawali pembentukan kerangka operasional. Di sini tampak jelas, jenis dan bentuk perubahan yang akan terjadi, bahkan dimensi waktu pun sudah pasti.
Mari kita ke Nusa Penida untuk melihat peluang perubahan. Peluang perubahan sebagai suatu fenomena negatif adalah: 1. Gugusan pulau ini merupakan daerah kritis dengan penduduk 46.749 jiwa hidup dalam ruang yang luasnya 192,72 km2. Pulau ini hampir tiap tahun dilanda kekeringan sehingga menyusahkan penghuni alam itu, manusia maupun ternak, terutama hewan (sapi). 2. Penduduknya berada dalam kategori miskin, karena sumber kegiatan ekonominya sangat terbatas.

Hanya ada pertanian rumput laut yang paling potensial di antara potensi lainnya, namun tidak mampu menyerap sumber daya manusia yang tersedia. 3. Pulau ini terisolir yang menyebabkan terbatasnya ruang gerak produktivitas masyarakat. Sarana perhubungan laut seperti kapal Roro yang ada sekarang ini sebenarnya dapat mengatasi masalah sosial masyarakat, namun masih belum dapat memecahakan permasalahan. 4. Kekuatan daya beli masyarakat sangat lemah, karena harga menjadi lebih tinggi dibandingkan harga kebutuhan pokok di daratan Bali. Hal ini akibat  ketidaksempurnaan sarana perhubungan laut. Akan tetapi, harga produk yang menjadi andalan sumber pendapatan masyarakat seperti rumput laut tidak menentu, harganya sering turun drastis. 5. Isu negatif yang ada membuat kekuatan pasar internasional ikut memporak-porandakan Nusa Penida.

Misalnya, ada isu akan dibangun industri kepariwisataan besar-besaran, sehingga banyak spekulan tanah membeli dan menguasai sebagian besar tanah di situ. Masyarakat menjualnya, tetapi hingga saat ini isu itu belum terwujud. Masyarakat selalu menantinya dengan gelisah. Spekulan tanah ikut kebakaran jenggot, investasinya tenggelam terlalu lama, akhirnya sekarang terjadi transaksi jual beli antarspekulan. Isu itu terhembus sejak tahun 1980-an. Sekarang sudah 30 tahun informasi negatif itu menerpa Nusa Penida.

Ada lima fenomena negatif yang merupakan tahapan kreativitas yang pertama. Kedua, kita masuki tahap berpikir, artinya ide apa yang kita siapkan untuk memasuki implementasi proses pembangunan. Dengan menyintesakan kelima fenomena itu, ide yang bisa kita miliki sbb:
1. Membangun Nusa Penida. Dalam hal ini, kita berpikir tentang pembangunan dimensi geografis. Implementasinya diawali dengan mewujudnyatakan pembangunan transportasi yang memadai.

Transportasi yang dimaksudkan, transportasi laut. Perlu dibangun pelabuhan kapal barang di pantai Klungkung maupun di Nusa Penida. Pelabuhan ini sebagai prasarana untuk meningkatkan frekuensi perjalanan kapal dari Klungkung ke Nusa Penida dan sebaliknya. Disusul mengoperasikan kapal sebagai sarana transportasi laut. Setelah transportasi laut memadai untuk kebutuhan Nusa Penida dalam arti kompleks, dilanjutkan dengan melakukan pembangunan Nusa Penida.

Membangun Nusa Penida, berarti dalam konteks geografis seperti: Pembangunan pantai untuk menghindari abrasi sekaligus memelihara keindahan alam; pembangunan tata ruang dalam kaitannya dengan pembangunan jalan di daratan dengan konsep pemikiran jangka panjang; pembangunan alam dalam konteks religius, artinya menentukan secara pasti dan tegas tempat-tempat suci yang harus dilestarikan, karena hal ini akan terkait dengan kebutuhan sektor kepariwisataan.


2. Membangun di Nusa Penida. Membangun di Nusa Penida berarti membangun potensinya yang mungkin bisa dilakukan secara wajar, baik pendekatan tradisional maupun modernisasi. Secara teoritis isi pembangunan suatu daerah terdiri atas pembangunan sektor pertanian dalam arti luas, sektor industri, dan sektor jasa.

Pembangunan sektor pertanian, dapat diwujudkan berupa pembangunan penghijauan dan melestarikan kembali berbagai jenis tanaman yang cocok tumbuh di daerah tersebut. Pembangunan penghijauan ini sangat erat kaitannya dengan usaha pembangunan ternak, terutama ternak sapi yang memang sangat cocok di Nusa Penida. Usaha pembangunan pertanian laut (rumput laut) dapat diekspansi dengan menggunakan teknologi baru, sehingga petani tidak hanya menanam rumput laut di pinggir pantai, tetapi bisa di air yang lebih dalam lagi, seperti di Kepulauan Seribu. Diperlukan investasi sangat besar seperti untuk penyiapan  perahu besar dan rakit-rakit yang termodifikasi dengan teknologi baru.

Di sektor industri di Nusa Penida bisa ditumbuh-kembangkan industri pengolahan rumput laut, dan pengolahan pabrik ikan laut. Dengan adanya industri pabrik ikan laut, berarti ada pelung untuk melakukan ekspansi penangkapan ikan ke laut yang lebih jauh dalam batas wilayah Indonesia yang sangat kaya akan ikan-ikan tuna dan sebagai peluang besar untuk merebut pasar internasional.

Diperlukan investasi besar seperti kapal penangkapan ikan sebagaimana kapal penangkap ikan yang banyak bersandar di Pelabuhan Benoa. Industri lainnya, industri rumah tangga yang sebagian sudah dimiliki masyarakat setempat seperti tenun kain cepuk yang memerlukan pembinaan dari berbagai kalangan. Industri rumah tangga akan berkembang secara otomatis, jika dimulai dengan kreativitas dari masyarakat setempat.

Di sektor jasa, sangat memungkinkan untuk dibangun rumah sakit yang sampai saat ini masih kurang memenuhi persyaratan. Sektor jasa lainnya, persiapan untuk menopang pembangunan kepariwisataan. Saya memperkirakan, kepariwisataan akan dapat dibangun hanya oleh masyarakat setempat, tetapi prosesnya perlahan-lahan. Jika sarana transportasi laut tuntas dibangun, dapat diduga pembangunan kepariwisataan menjadi terwujud lebih cepat lagi.

Dengan ide seperti itu berarti tahap kreativitas kedua sudah terlampaui untuk sementara. Kreativitas ketiga, realisai atau pelaksanaan ide. Tidak mungkin kreativitas pembangunan dapat terealisir, jika hanya dilakukan pemerintah atau hanya oleh masyarakat. Bentuk kerja sama ini diawali dengan kesepakatan bersama antara pemerintah dan masyarakat. Kemudian, pemerintah dapat membentuk kerja sama dengan investor dalam dan luar negeri dengan harus memiliki keteguhan prinsip. Keteguhan prinsip berarti memiliki niat atau kemauan yang kuat untuk melaksanakan pembangunan Nusa Penida dan bermanfaat bagi daerah itu dan seisi alam di sana.
•    Nyoman Djinar Setiawina
                Guru Besar FE Unud  

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Advertisement
 

Usaha

article thumbnailIndustri Tenun perlu Generasi Muda yang Produktif

Senin, 30 Agustus 2010

Mengunjungi Sentra Industri Kerajinan di Gianyar . Jika hanya mengandalkan teknik produksi tradisional tenun cagcag tidak akan mampu memenuhi pasar. Untuk itu, perlu pengembangan tenun ikat...

Artikel lainnya

Keluarga

article thumbnailLove Story (2) Komjen Pol Made Mangku Pastika dan Ni Made Ayu Putri Pastika

Senin, 30 Agustus 2010

Mengayuh Biduk Rumah Tangga. JODOH alumnus Akabri Kepolisian Made Mangku Pastika sudah digariskan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Sosok Ni Made Ayu Putri, adik kandung sobatnya semasa...

Artikel lainnya