| Ni Nyoman Setyadewi Kepuasan Harga Mati |
|
|
| Senin, 08 Februari 2010 | |
TREN kebaya dari masa ke masa tak pernah tergeser. Terlebih di Bali, keunikan kebaya bordir tak pernah sepi penggemar malah makin meningkat. Perempuan satu ini mantap terjun menggeluti kerajinan kebaya bordir setelah mengetahui peluang itu.
Menurut ibu muda ini, dulu kebaya dipandang sebagai pakaian tradisional dan dalam perjalanannya makin mendapat tempat di hati perempuan. Keindahan tubuh akan terpancar dengan balutan kain kebaya baik di acara formal maupun santai. Keindahan kebaya inilah, yang dipegang dan dikembangkannya. Bagi wanita di Pulau Dewata ini khususnya, kebaya adalah kebutuhan. Kebaya adalah karakter dan prestise. Perempuan dalam ukuran tubuh apa pun akan terlihat langsing dan elegan dengan kebaya. Diotak-atik bagaimana pun keindahan kebaya tetap tampak. Hal itu memotivasi Ni Nyoman Setyadewi ini membuka gerainya. Ia ingin memberi banyak pilihan pada penggemar kebaya, tidak hanya di Bali tapi di seluruh Indonesia dan bangsa Melayu yang suka mengenakan kebaya. Kini kebaya terus berkibar dan menanjak popularitasnya. Butik Calista Bali Kebaya dibuka dua tahun lalu, tepatnya 25 Oktober 2008. Usaha ini dilakoni Dewi, panggilan akrabnya karena hobi berdagang dan gemar mengoleksi kebaya. Ia ingat, betapa temannya sering tertarik dengan kebaya yang dipakainya dan ingin membeli. Makin lama hal itu mengusiknya dan membuatnya ingin menekuni bisnis kebaya. “Awal merintis hanya door to door, mulai dari teman, tetangga dan kerabat sampai akhirnya membuka butik agar mampu menyasar semua kalangan dengan pelayanan nyaman,” kata istri I Gede Made Dharma Susila ini. Sebelumnya ibu Ni Luh Putu Calista Dharma Putri dan I Gede Made Athaya Kumara Dharma Putri ini bekerja sambilan di perusahaan properti. “Faktanya, kita tidak bisa menangkap dua belalang sekaligus. Pasti ada yang lepas, salah satu atau malah keduanya. Saya memilih menekuni bisnis ini,” katanya berfilasat. Karena suka terhadap bidang ini, tak membuatnya merasa jenuh. Terlebih bagi putri pasutri I Gede Srinadia (alm.) dan Ni Luh Mandriani ini, menyenangkan bisa mengatur waktu sendiri. “Syukur keluarga sangat mendukung. Terutama suami, dia tidak pernah mengeluh kalau saya lama di depan komputer. Karena tidak terikat waktu, saya juga bisa kerja di rumah sambil mengasuh dan mendidik anak,” ujar ibu kelahiran 9 Maret 1979, yang melayani klien langsung di butik atau dari facebook serta melayani pesan antar, personal service dan datang langsung jika diinginkan. Dalam perkembangannya, tak urung, pelanggan dari luar daerah pun rutin memesan, seperti dari Aceh, Ambon, Jakarta, Bandung, Lampung, Sulawesi, Kalimantan, Semarang, Yogyakarta, Balikpapan, Lombok Palembang, dan Flores. “Hampir semua kota di Indonesia sudah saya jangkau kecuali Papua,” kata Dewi. “Kami melayani personal request, bukan sekadar jualan, siap diajak konsultasi dan siap melayani jahit,” lanjut pelahap buku-buku chicken soup dan tulisan Gede Prama ini sambil mengenang pembeli pertamanya dari Malaysia, Rozlin Mohd Khalid, begitu melihat koleksinya di blog, langsung belanja. Selanjutnya Dewi makin semangat berjualan online (daring). Karena di blog, jejaring gratis saja mendapat respons dari luar apalagi situs, ia merasa pasti kian ramai. “Akhirnya jadilah situs www.balikebaya.com. Melalui daring pula salah seorang pelanggan dari Jakarta, Elyani Gunadi jadi teman dan sering memberi masukan,” tutur Dewi yang melepas harapan melalui situs memuluskan Bali menjadi trend setter kebaya di seluruh Nusantara. Dengan aneka koleksinya, konsumen yang dibidiknya pun bervariasi mulai remaja sampai para ibu. “Saya sempat membuat kebaya anak-anak dengan sulaman payet dan pita kreasi sendiri, ternyata respons datang dari luar Bali. Saya malah sempat mendapat pesanan seragam perpisahan anak SD di Kalimantan,” katanya sambil menyampaikan kalau ide desainnya bisa datang dari mana saja seperti mengikuti tren, dari majalah, harmonisasi keragaman budaya termasuk kehidupan sehari-hari. Kini motif yang dibuatnya tak terhitung lagi, dari bunga hingga fauna dan pilihan bahan dari katun hingga rawsilk, dengan kualitas utama. “Koleksi Calista bermain di motif yang berbeda. Kami lebih unggul karena selalu baru, unik dan khas,” tandasnya sembari menyakinkan ia menjaga eksklusivitas. Produksinya bukan massal tapi harga tetap terjangkau. Dewi mengaku sedih jika ada yang tidak puas. Baginya inovasi dan kepuasan adalah harga mati. Bagi Dewi yang beralamat di Jalan Merak Gang Pipit No. 7 Denpasar ini berbisnis berarti siap bersaing bebas dan sehat. Untuk jadi terbaik dituntut kreativitas. “Yang penting, kita melestarikan budaya tradisional sehingga makin diketahui oleh dunia, bukan saja bangsa Melayu. Satu lagi, dengan banyaknya pengusaha kebaya secara online dengan kreasi tersendiri membuat Bali menjadi trend setter kebaya,” tandas pengagum desainer senior Ramli dan sangat ingin punya merek sendiri ini, agar bisa diwariskan pada anaknya, meski disadari guna meraihnya perlu waktu, perjuangan serta usaha keras. - ard |
|
| Terakhir Diperbaharui ( Senin, 08 Februari 2010 ) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





TREN kebaya dari masa ke masa tak pernah tergeser. Terlebih di Bali, keunikan kebaya bordir tak pernah sepi penggemar malah makin meningkat. Perempuan satu ini mantap terjun menggeluti kerajinan kebaya bordir setelah mengetahui peluang itu.
