| Dewa Nyoman Geria, Putra Nusa Penida Merantau demi Kehidupan Masa Depan |
|
|
| Senin, 08 Februari 2010 | |
|
BAGI warga masyarakat Pulau Nusa Penida, merantau ke Pulau Bali bukan selalu karena terpaksa. Ada dorongan lain yang melandasi ketetapan hatinya harus merantau, yakni demi lebih berkembangnya potensi diri dan lebih tersalurkannya minat, demi kehidupan masa depannya. Paling tidak itulah pergulatan batin yang berkecamuk di benak seorang putra Nusa Penida, Dewa Nyoman Geria (75 tahun), ketika memutuskan merantau ke Pulau Bali saat berusia bocah. “Sejak duduk di bangku Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar) saya sudah merasa memiliki potensi, paling tidak berupa semangat, dan sudah berkeinginan suatu ketika memiliki tanah dan di atas tanah itu akan saya bangun rumah,” ungkap kakek 11 cucu kelahiran Batununggul, Nusa Penida, itu. Di Nusa Penida, keluarga Geria memang tidak memiliki tanah. Setelah ayahnya meninggal saat Geria masih bayi, segala miliknya di Batununggul dijual, mereka pindah ke Mentigi dan membangun rumah numpang di atas tanah milik warga setempat. Di rumah yang sangat sederhana itu tinggal 9 orang yakni ibu dan delapan anaknya. Geria anak bungsu, satu dari tiga anak laki-laki pasangan suami-istri yang bekerja sebagai petani penggarap itu. Geria disekolahkan ibunya di SR Sampalan. Saat itu sudah tampak dalam diri Geria, dia anak cerdas, rajin belajar, dan rajin bekerja. Ketika di desanya dibangun jalan, tanpa disuruh ia turut bekerja dan mengantar nasi untuk makan siang mandor jalan, yang ia panggil Anak Agung Oka, seorang keturunan Puri di Klungkung. Tiap hari Geria mengangkat batu-batu yang diwadahi keranjang buatannya sendiri. ”Geria anak pintar. Dari kerdipan matamu saja saya tahu kamu anak pintar. Sudah bisa membuat keranjang untuk mengangkat batu,” ujar sang Mandor Jalan saat Geria datang menyerahkan makanan. Saat itu pula A.A. Oka menawari Geria jadi parekan, ngenger di Puri Anyar Klungkung. Geria, yang saat itu duduk di bangku kelas 3 SR, langsung menerima tawaran itu. ”Saat itu masih jarang orang Nusa Penida yang merantau ke Bali,” ujar Geria. Di Klungkung (sekarang Semarapura), Geria disekolahkan di sebuah sekolah rakyat negeri, satu dari tiga SR negeri yang ada kota itu. Dari kelas 3 di Nusa Penida ia langsung duduk di bangku kelas 5 di Klungkung. ”Entah mengapa begitu, mungkin karena yang memasukkan saya keluarga Puri atau barangkali saya dianggap mampu,” ujarnya ketika ditanya mengapa tidak pernah duduk di bangku kelas 4 SR. Menangis di Depan Ibu Di Puri, pagi-pagi Geria sudah bangun. Cukup beragam tugas yang harus ia kerjakan, dari menyapu, mengepel lantai, membantu di dapur, mencuci piring, mencuci pakaian, sampai naik pohon kelapa. ”Waduh, kalau sudah hari raya Galungan, pekerjaan bertumpuk-tumpuk. Pakaian yang terbuat dari kain dril, tebal-tebal, harus saya suci di Tukad (sungai) Unda, sekitar 1 km dari Puri; saya banting-banting di atas batu-batu besar. Tak jarang, sepulang mandi sore di sungai itu, saya harus membawa batu geragal yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan Puri,” kisahnya. Dialek Nusa Penida yang berbeda daripada dialek Bali umumnuya, membuat Geria jadi bahan ejekan teman-temannya di sekolah. ”Saya pasrah saja walau diledek sebagai anak kampung yang jarang mandi,” ungkapnya. Saat itu murid SR tidak membayar uang sekolah dan tidak berpakaian seragam. Belajar menulis di atas batu karas menggunakan grip yang disediakan sekolah. ”Ketika diadakan lomba menggambar peta Sunda Kecil (sekarang Nusa Tenggara), saya meraih juara dan mendapat hadiah kain dril hijau 6 meter,” kenangnya. Kenangan lain Geria yang cukup mengesankan, dalam ujian akhir SR, dia lulus dengan nilai terbaik. Yang lulus hanya tiga orang. Dua orang lainnya Made Rakib yang kemudian melanjutkan ke SGB Negeri Bangli, satu-satunya sekolah guru bawah di Bali saat itu, dan Gusti Made Wisma yang melanjutkan ke SMP Nasional Klungkung. Geria yang saat acara perpisahan didaulat untuk menyampaikan pidato perpisahan di depan guru dan murid-murid lain, diterima di SMP Negeri Klungkung. Di SMP, walau bebas uang sekolah, pihak sekolah hanya meminjami buku bahasa Inggris. Didorong semangat belajarnya yang tinggi, tetapi tidak mampu membeli buku, Geria meminjam buku pada teman-temannya, kemudian ia catat dan singkat. Namun, cara itu dirasakannya tidak cukup. Maka, Geria berlayar menuju Nusa Penida menemui ibunya. Ia minta izin ibunya untuk menjual sebagian warisannya berupa seekor godel (anak sapi) dan sebentuk cincin emas. Semula ibunya keberatan. Tetapi, setelah Geria meyakinkan ibunya bahwa uangnya akan dibelikan buku daripada malu karena putus sekolah, akhirnya ibunya mengizinkan. ”Saat itulah pikiran saya tidak karuan. Saat meminta saya bersemangat, tetapi setelah Ibu memenuhi permintaan itu saya terharu dan menangis,” kenangnya. Sebagian uang hasil jualan warisan itu diserahkan pada ibunya, sebagian lagi ia bawa ke Klungkung dan habis dibelikan buku seperti ilmu aljabar, ilmu ukur, dan ilmu alam. Di kelas 3 dibagi dua jurusan, Ilmu Sosial dan Ilmu Pasti. Geria memilih Jurusan Ilmu Pasti. Semula Geria berniat mekanjutkan sekolah ke SGA Negeri Singaraja. Tetapi, ternyata di sekolah itu ikatan dinas baru diberikan saat di kelas 2, setelah lulus seleksi. Geria mundur, akibat tiadanya biaya. Geria memilih Sekolah Pendidikan Kemasyarakatan (SPK) di Solo, Jawa Tengah. Informasi tentang SPK diperolehnya dari selebaran yang dikirim ke sekolahnya. Geria melamar dan karena nilai ujian SMP-nya bagus, ia diterima sebagai satu-satunya wakil dari Provinsi Bali. SPK hanya menerima murid tiap provinsi satu orang dan diberi ikatan dinas yang jumlahnya sekitar Rp 145 sebulan. Maka, Geria mulai menapakkan langkah merantau tahap berikutnya. Setelah dari Pulau Nusa Penida ke Pulau Bali, kini ia merantau dari Bali ke Jawa Tengah, demi meraih keinginannya memiliki tanah yang di atasnya dibangun rumah, demi kehidupan masa depannya – wid. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





