Calendar Date

Sep
09
2010
  • Advertisement
  • Advertisement

Berlangganan Koran Tokoh
Setahun Rp 90.000 + Ongkos Kirim
6 Bulan Rp 60.000 + Ongkos Kirim

Hubungi: Pipit/Ayu (0361) 425373, sms ke Sepi (0361) 7402414

Advertiser

sale
semua Desa Diberi Nama “Nusa” PDF Cetak
Senin, 08 Februari 2010
SELAMA ditugaskan sebagai PNS di Jawatan Transmigrasi Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, beberapa jabatan telah dipercayakan pada diri Geria. Pertama-tama tiba tahun 1961 ia menjabat kepala Bagian Perencanaan. Kemudian, ia naik pangkat menjadi kepala Unit dan merangkap Komandan Komando Pelaksana Transmigrasi OKU. Puncaknya tahun 1966, ia dilantik menjadi kepala Jawatan Transmigrasi OKU. Tahun 1969 ia mengajukan permohonan berhenti sebagai PNS setelah dijalaninya 10 tahun.
“Saya yang waktu itu sudah punya anak dua, ingin menjadi petani. Pekerjaan sebagai petani buat saya adalah pekerjaan anugerah Tuhan yang paling mulia,” katanya ketika ditanya mengapa mengundurkan diri dari PNS.

Dalam kegiatan kemasyarakatan Geria pernah menjabat ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Cabang Oku. Di Desa Nusa Tunggal, yang keluarga Geria merupakan satu-satunya penduduk asal Bali, ia pernah memangku jabatan sebagai pejabat Kepala Desa (1981 –1984) dan kemudian kepala desa (1984-1989) setelah terpilih sebagai calon tunggal. Sedangkan di tetangga desanya, Desa Nusa Raya yang seluruh penduduknya asal Bali, Geria menjabat mangkudalem dan kelian banjar.

Nama seluruh desa di daerah transmigrasi Kecamatan Belitang selalu didahului “Nusa”. Selain Nusa Tunggal dan Nusa Raya, ada Nusa Balili, Nusa Jaya, Nusa Maju, Nusa Agung, Nusa Bali. “Kata nusa saya cantumkan sebagai kenang-kenangan saya sebagai pionir di daerah penempatan transmigran, yang berasal dari Pulau Nusa Penida,” ujarnya.    
Transmigran asal Bali korban Gunung Agung yang meletus tahun 1963 ditempatkan di Desa Nusa Bali dan Nusa Agung.

Situasi yang Mencekam
Situasi mencekam terjadi tahun 1965. Sebagai komandan Komando Pelaksana Transmigransi Kabupaten OKU, Geria memikul tiga tanggung jawab, yakni dalam penerimaan transmigran, penempatan transmigran, dan pembukaan tanah untuk trasmigran. Saat itu baru saja datang 2.55 KK transmigran dari Jawa dan Bali. Mereka menuntut bantuan beras yang tak kunjung datang dari pemerintah. Geria memperjuangkannya menghadap pejabat-pejabat di Departemen Transmigrasi dan Departemen Keuangan di Jakarta. Upayanya tidak berhasil. “Berhari-hari saya di Jakarta sampai keleleran. Tidur di sebarang tempat di Tanah Abang. Bekal terkuras hanya tersisa untuk biaya pulang. Saya kelaparan,” kenangnya.

Ketika pulang ke Belitang ia terdampar di tengah jalan, di Lampung. Ia menginap di pesanggrahan Kantor Transmigrasi Tanjungkarang. Untuk mencari biaya makan, mobil Kantor Transmigrasi Tanjungkarang dioperasikan, Geria menjadi kernetnya. Setelah mendapat bekal, ia pulang ke OKU.
Di OKU ia kumpulkan para transmigran yang sudah tambah beringas. Di depan mereka, di sebuah ruangan gudang, Geria bercerita tentang pengalamannya berjuang di Jakarta sampai kehabissan bekal, kelaparan, dan tidur di sebarang tempat. “Saya juga menyayangkan sikap pemerintah, bukan hanya bapak-bapak dan ibu-ibu,” ujarnya di depan massa.

Cara berempati Geria itu ternyata membuat transmigran terharu. Mereka pulang dengan tertib sambil menanti terpenuhinya janji Geria untuk mencari utangan beras. Geria mendatangi bupati dan pihak-pihak lain yang memiliki beras. Sembilan hari kemudian terkumpul 169 ton beras dan dua hari kemudian dibagikan kepada para transmigran. Tak lama kemudian, meletus tragedi G 30 S/PKI, 30 September 1965. –wid.
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Advertisement
 

Usaha

article thumbnailIndustri Tenun perlu Generasi Muda yang Produktif

Senin, 30 Agustus 2010

Mengunjungi Sentra Industri Kerajinan di Gianyar . Jika hanya mengandalkan teknik produksi tradisional tenun cagcag tidak akan mampu memenuhi pasar. Untuk itu, perlu pengembangan tenun ikat...

Artikel lainnya

Keluarga

article thumbnailLove Story (2) Komjen Pol Made Mangku Pastika dan Ni Made Ayu Putri Pastika

Senin, 30 Agustus 2010

Mengayuh Biduk Rumah Tangga. JODOH alumnus Akabri Kepolisian Made Mangku Pastika sudah digariskan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Sosok Ni Made Ayu Putri, adik kandung sobatnya semasa...

Artikel lainnya