Calendar Date

Sep
09
2010
  • Advertisement
  • Advertisement

Berlangganan Koran Tokoh
Setahun Rp 90.000 + Ongkos Kirim
6 Bulan Rp 60.000 + Ongkos Kirim

Hubungi: Pipit/Ayu (0361) 425373, sms ke Sepi (0361) 7402414

Advertiser

sale
Harga Bahan Baku Asal Cina Selangit PDF Cetak
Senin, 08 Februari 2010
ImagePengusaha Tekstil di Bali Desak Pemerintah Mengendalikannya
BERAGAM produk industri tekstil Cina kian deras membanjiri Tanah Air. Ini menyusul ditekennya nota kesepahaman ASEAN Cina Free Trade Agreement (ACFTA) belum lama berselang. Padahal, ada sementara kalangan mencemaskan produsen industri tekstil kita terancam gulung tikar. Pasar produk tekstil dalam negeri disinyalir cenderung tak kuasa berdaya saing dengan hasil produksi serupa asal negara berpenduduk terpadat di dunia itu.

Dampak menggelindingnya ACFTA mulai dirasakan kalangan pelaku usaha di Bali. Ini terungkap dari pengakuan Dra. A.A. Istri Puspawati, M.M., Desak Putu Nithi, dan Ni Wayan Sarmi dalam forum diskusi komprehensif terbatas Koran Tokoh dan Mama & Leon yang membahas topik “Peluang dan Tantangan Pemasaran Produk Industri Domestik Menghadapi ASEAN Cina Free Trade Agreement (ACFTA)”, Selasa (2/2), di Gerai Mama & Leon Renon. Tiga perempuan pengusaha Gianyar ini menuturkan, mereka menangkap kesan adanya kecemasan sementara kalangan produsen tekstil lokal di Bali sejak bergulirnya era perdagangan bebas ASEAN dan Cina.

“Pasar domestik kita memang sedang diserbu berbagai macam produk tekstil Cina. Selain harganya terjangkau kantong rata-rata konsumen kita, juga desainnya menarik,” ujar Gung Puspa, panggilan akrab A.A. Putri Puspawati.

Hal senada dikemukakan Ni Wayan Sarmi. Pemilik I Made Joni Fine Art’s Gallery & Restaurant Ubud ini menangkap ada kecemasan sementara kalangan pelaku usaha atas produk tekstil lokal yang akan kehilangan pasar konsumennya. “Sementara kalangan pelaku usaha ini mungkin khawatir karena selera belanja barang murah di kalangan konsumen kita kan relatif tinggi. Kebetulan harga barang impor Cina memang lebih murah,” ujar istri I Made Joni kelahiran Gianyar 23 Desember 1964, ini.
Desak Putu Nithi pun menyitir adanya kecemasan semacam itu. Namun, menurut pemilik Buddha’s & Silk Gallery Pengosekan, Ubud, ini, kecemasan tersebut tampaknya cenderung diakibatkan melubernya pasar barang jadi asal Cina di pasar konsumen domestik kita. Ini seolah mengesankan produk tekstil kita sudah kehilangan daya saing.

Padahal, hasil produksi tekstil lokal Bali diyakinkannya tetap memiliki pasar konsumen yang luas. Ia memberi contoh batik tulis tradisional Bali yang diproduksinya. “Batik tulis hasil produksi manajemen kami bukan hanya diminati pasar lokal, orang asing justru menjadi pasar paling luas dari batik tradisional Bali,” kata istri Dw. Nyoman Rai Putrawan ini.

Desak Nithi justru tak ketar-ketir dengan derasnya produk tekstil impor Cina masuk ke Indonesia. Ini terutama dikaitkannya dengan jenis produk tekstil Cina yang berupa barang jadi. “Bali juga punya barang jadi tekstil yang berdaya saing tinggi. Contoh di manajemen usaha tekstil saya yang berada di bawah manajemen Nithi Collection. Selain batik tulis tradisional Bali, kami juga memproduksi sprei dan bed cover yang khas desain klasik Bali. Produk usaha bisnis tekstil ini dikerjakan di rumah keluarga saya. Hasilnya diekspor ke New Zealand, Eropa, AS, dan Australia. Daya saing produk tekstil kami ini masih efektif menembus pasar internasional,” katanya.


Namun, Desak Nithi justru mengeluhkan harga bahan baku tekstil asal Cina yang selangit di pasar penjualan di Bali. “Harganya malah lebih mahal ketimbang harga barang jadi yang juga diimpor dari Cina,” katanya.

Sebagian bahan baku tekstilnya memang mengandalkan kain yang diimpor dari Cina. Ini sesuai permintaan relasi bisnis asing maupun pelanggan mancanegaranya. “Banyak tamu asing yang justru terpikat dengan kain Cina. Mereka mengaku harganya lebih murah. Mutunya juga disebut-sebut bagus, terutama ketebalan kainnya cocok dengan selera konsumen asing yang bermukim di daerah dingin. Mereka inilah yang minta bahan bakunya memakai kain Cina,” katanya.

Awalnya, Desak Nithi mengaku sanggup memenuhi permintaan relasi bisnis maupun pelanggan asingnya. Ini terutama sebelum bergulirnya nota kesepahaman ACFTA. “Sebelum ACFTA, harga bahan baku tekstil masih murah. Saya membelinya di Denpasar,” ujar pengusaha kelahiran 26 Maret 1957 ini.

Namun, harga bahan baku tersebut merambat naik selangit setelah ACFTA berjalan. “Pedagang bahan baku tekstil Cina ini menaikkan harga jual jauh melebihi harga barang jadi dari Cina. Ini kan lucu, mosok barang jadi lebih murah harganya ketimbang bahan baku. Rata-rata bisa 50%-100% lebih mahal lho…” kata mantan pengurus teras Iwapi Gianyar ini.

Pemerintah didesak turun tangan mengendalikan melonjaknya harga bahan baku tekstil impor Cina tersebut. “Ini tentu demi membantu memacu daya saing produk dunia usaha  tekstil di Bali di tengah ketatnya persaingan bisnis era perdagangan bebas belakangan ini,” harap ibu tiga anak, Dw. Gd. Yudi Erawan, Dsk. Md. Yudi Wirawati, dan Dw. Ayu Nyoman Murniasih, ini.

Sementara Gung Puspa mendesak perlunya kerja keras menggenjot pasar domestik untuk menjaga urat nadi dunia usaha lokal. Ini bukan saja akibat relatif lesunya pasar ekonomi internasional gara-gara krisis global. Juga, penguatan pasar domestik ditujukan menghadapi ACFTA.

Konsumen Indonesia dinilai masih bisa digenjot untuk makin mencintai produk lokal. “Minimal 30% dari 250 juta penduduk Indonesia masih cinta produk dalam negeri. Namun, masyarakat Bali khususnya perlu ditumbuhkan terus semangat cinta produk lokal dan memotivasi diri sendiri untuk maju dalam menghadapi pasar bebas. Inovasi dan kualitas juga menjadi hal utama dalam menghapi ACFTA,” harapnya.

Selain itu, Gung Puspa juga menyentil pasar usaha handicraft Bali. Menurutnya,  kalangan usahawan produk handicraft Bali masih optimis memiliki pesar konsumen yang terbuka. “Produk handicraft Bali masih mampu bertahan dan bersaing dalam ketatnya kompetisi bisnis di pasar bebas,” kata Koordinator Iwapi Pusat untuk Wilayah Bali, NTB, NTT, ini.

Produk handicraft Bali dinilainya memiliki keunikan.  Ini yang membuat handicraft Bali berbeda dan tak bisa ditiru produsen negara lain. “Kita tak perlu kelewat takut menghadapi produk Cina menguasai pasar domestik. Kita memilki produk lokal yang diferensiatif, sehingga dapat bersaing dengan produk Cina,” katanya meyakinkan.

Namun, kalangan pengusaha handicraft di Pulau Dewata diungkapkan mulai kesulitan memperoleh bahan baku kayu.  “Bahan baku kayu untuk industri handicraft di Bali mulai langka. Bahan baku kayu yang ada mahal harganya,” katanya.  —sam,put

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Advertisement
 

Usaha

article thumbnailIndustri Tenun perlu Generasi Muda yang Produktif

Senin, 30 Agustus 2010

Mengunjungi Sentra Industri Kerajinan di Gianyar . Jika hanya mengandalkan teknik produksi tradisional tenun cagcag tidak akan mampu memenuhi pasar. Untuk itu, perlu pengembangan tenun ikat...

Artikel lainnya

Keluarga

article thumbnailLove Story (2) Komjen Pol Made Mangku Pastika dan Ni Made Ayu Putri Pastika

Senin, 30 Agustus 2010

Mengayuh Biduk Rumah Tangga. JODOH alumnus Akabri Kepolisian Made Mangku Pastika sudah digariskan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Sosok Ni Made Ayu Putri, adik kandung sobatnya semasa...

Artikel lainnya