Calendar Date

Sep
09
2010
  • Advertisement
  • Advertisement

Berlangganan Koran Tokoh
Setahun Rp 90.000 + Ongkos Kirim
6 Bulan Rp 60.000 + Ongkos Kirim

Hubungi: Pipit/Ayu (0361) 425373, sms ke Sepi (0361) 7402414

Advertiser

sale
TAHUN KUNJUNGAN MUSEUM Bukan hanya Sedot Turis PDF Cetak
Senin, 01 Februari 2010
ImageMenteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik telah
mencanangkan tahun 2010 sebagai Tahun Kunjungan Museum. Target yang ingin dicapai tentu bukan hanya tersedotnya kunjungan wisatawan ke Indonesia, khususnya wisatawan mancanegara. Tujuan utama lainnya, untuk lebih memperkenalkan dan mensyosialisasikan keberadaan dan fungsi museum kepada masyarakat, utamanya generasi muda. Museum merupakan salah satu bukti nyata peninggalan peradaban. Karena itu, guna mendukung suksesnya tahun Kunjungan Museum ini, Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata juga bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Nasional. Di Jakarta banyak terdapat tempat-tempat wisata serba menarik dan gemerlap seperti Taman Impian Jaya Ancol, Taman Mini, dan pelbagai pusat hiburan, juga bertebaran museum, mulai museum yang dikelola instansi pemerintah atau kementerian, pemerintah daerah, yayasan, hingga perorangan. Yang dikelola perorangan biasanya bersifat khusus, yakni museum yang hanya mengoleksi suatu jenis karya, atau barang khusus, seperti museum layang-layang dan museum fashion Harry Dharsono.

Di DKI Jakarta terdapat 50 museum. Yang dikelola Pemprov DKI 11, di antaranya Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah), Museum Keramik, Museum Wayang, Museum Tekstil, Museum Taman Monas, dan Museum Bahari. Museum yang sering dikunjungi dan berkait erat dengan Kota Jakarta adalah Museum Fatahillah. Selain itu juga Museum Wayang dan Keramik yang letaknya dalam satu kompleks atau kawasan Jakarta Kota Tua. Masyarakat Jakarta biasanya cukup menyebut kawasan Kota atau Kota yang masuk wilayah Jakarta Barat. Sementara Museum Tekstil terletak di daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Keistimewaan museum yang dikelola Pemprov DKI, seperti yang pernah dikemukakan Deputi Gubernur DKI Bidang Budaya dan Pariwisata Aurora Tambunan, adalah menempati bangunan-bangunan bersejarah, umumnya terdapat di kawasan Kota Tua. Dua museum yang cukup memiliki keunikan antara lain Museum Wayang dan Museum Tekstil. Pengelola Museum Wayang selain mengoleksi aneka jenis wayang di Indonesia dan bermacam boneka mancanegara, juga sering mengadakan pergelaran wayang kulit. Museum Tekstil, selain mengoleksi pelbagai jenis tenun tradisional dari berbagai etnis di Indonesia, juga kain-kain tradisional mancanegara. Di sini juga tersimpan beberapa karya terbaik rancangan para desainer busana ternama Indonesia.

Pengunjung Meningkat
Melihat seliweran pengunjung di Museum Wayang, mungkin kita terhenyak dan heran. Mahasiswa, anak-anak seragam SMTA, SMP, dan juga SD, acap mengunjungi museum ini. Setidaknya saat dua kali wartawan Koran Tokoh ke sana akhir-akhir ini, museum ini tak pernah sepi kunjungan mereka. Mengapa sampai dicanangkan tahun Kunjungan Museum jika generasi muda kita tampak antusias mendatangi museum? Mungkin demikian pertanyaan yang melintas dalam pikiran kita. Satu lokasi atau keberadaan di Museum Wayang, tentu tak bisa dijadikan acuan. Karena, sebagaimana kita ketahui, di banyak museum lainnya, tak banyak yang berkunjung.

Museum Wayang berada di dekat Taman Fatahillah, yang sejak kawasan Kota Tua direvitalisasi tahun 2006 seakan berubah fungsi. Arealnya yang luas dikelilingi bangunan kuno menjadi semacam taman rendesvous dan taman bermain bagi warga Ibu Kota. Sebelumnya, kompleks itu hanya tempat bermain anak-anak serta tempat istirahat tuna wisma
Menurut Sri Kusumawati (Atik) dari Bagian Tata Usaha,  pada hari kerja banyak anak-anak sekolah datang. Mereka umumnya berfoto dengan latar belakang gedung-gedung tua. Namun, di dalam gedung Museum Wayang tidak diperkenankan memotret koleksi museum, kecuali wayang-wayang dan benda lain di ruang depan (lobi) atau tempat penjualan suvenir.

Pengunjung terutama anak sekolah sekadar datang ke museum, lalu di luar gedung jepret sana-sini. “Yang penting mereka mengenal dan tahu dulu tempat ini. Itu langkah awal. Dengan tahu dan mengenal apa itu museum dan apa yang dikoleksinya, di antara mereka tentu lama kelamaan akan memahami fungsi museum, dan untuk apa keberadaannya,” ujar Atik.
Dari tahun 2006 hingga sekarang kecenderungan pengunjung Museum Wayang meningkat. Tahun 2006 sebanyak 28. 089 orang, 2007:  41.508 orang, dan 2008 : 80.883 pengunjung. Turis asing yang datang beragam asal negaranya, di antaranya Belanda, Prancis, Argentina, Jepang, Taiwan, Amerika Serikat.

Dengan membaca buku tamu di Museum Wayang, kita tahu asal sekolah/kampus yang berkunjung ke sana. Hal ini barangkali membuat kita tak perlu terlalu prihatin terhadap keberadaan museum. Walau mereka sekadar melihat-lihat, membeli suvenir miniatur wayang dan benda lainnya dari bahan sejenis atau hiasan-hiasan kulit serta alat sekolah seperti pensil.
Museum Wayang, selain memajang koleksi aneka jenis wayang, juga mengadakan pergelaran seni wayang sebulan dua kali. — is
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Advertisement
 

Usaha

article thumbnailIndustri Tenun perlu Generasi Muda yang Produktif

Senin, 30 Agustus 2010

Mengunjungi Sentra Industri Kerajinan di Gianyar . Jika hanya mengandalkan teknik produksi tradisional tenun cagcag tidak akan mampu memenuhi pasar. Untuk itu, perlu pengembangan tenun ikat...

Artikel lainnya

Keluarga

article thumbnailLove Story (2) Komjen Pol Made Mangku Pastika dan Ni Made Ayu Putri Pastika

Senin, 30 Agustus 2010

Mengayuh Biduk Rumah Tangga. JODOH alumnus Akabri Kepolisian Made Mangku Pastika sudah digariskan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Sosok Ni Made Ayu Putri, adik kandung sobatnya semasa...

Artikel lainnya