| Mengenal Tekstil Abad ke-17 di Bekas RumahBangsawan Prancis |
|
|
| Senin, 01 Februari 2010 | |
MEMASUKI kompleks Museum Tekstil di kawasan KS Tubun Tanah Abang, Jakarta Pusat, kita seolah ‘terlempar’ ke masa lalu, berabad-abad silam. Bangunan berarsitektur art deco bekas kediaman pribadi seorang bangsawan Prancis abad ke-17 ini, megah berdiri di tengah taman. Di pojok kanan, menghadap taman luas yang ditumbuhi pohon-pohon rindang, berdiri bangunan lain lebih kecil yang juga bersarsitektur serupa.
Di dua bangunan itulah acara-acara utama Museum Tekstil biasa diadakan. Pada hari biasa, bangunan utama juga dipakai sebagai ruang display koleksi museum yang jumlahnya 2000-an secara silih ganti. Sedangkan bangunan lebih kecil yakni gallery, biasanya digunakan masyarakat untuk memamerkan koleksi tekstil miliknya.Kebetulan, ketika Koran Tokoh berkunjung hari itu, Museum Tekstil sedang tidak menggelar acara khusus, sehingga kesan ‘sunyi-senyap’ menyergap begitu memasuki kompleks museum. Hanya satu-dua pengunjung tampak sedang membeli karcis Rp 2000 agar bisa masuk ke ruang pamer utama. Pohon-pohon rindang dan suhu udara Jakarta yang kebetulan sedang ‘sejuk’, makin menguatkan kesan itu. Suasana baru terasa semarak ketika pengunjung menuju areal belakang museum, tempat sejumlah bangunan berdiri secara berpencar menghadap taman yang juga dipenuhi pohon-pohon rindang. Maklum pada hari-hari biasa, di bangunan-bangunan itulah aktivitas paling banyak dilakukan. Di sana ada kantor, gudang penyimpanan tekstil koleksi, pendopo tempat kursus batik, perpustakaan, toko suvenir. Di pendopo, tampak sejumlah pengunjung sedang mengikuti kursus membatik, sedang di perpustakaan tampak siswa berseragam putih-biru sedang mencari data perkembangan tekstil. “Biasanya orang datang ke museum ingin melihat koleksi yang dipamerkan, maka yang ke Museum Tekstil adalah mereka yang ingin belajar membatik. Workshop membatik diadakan hampir tiap hari, kecuali hari libur,” ujar Kepala Museum Tekstil, Indra Riawan, M.Hum. Hal yang menggembirakan, ujarnya, belakangan animo masyarakat mengunjungi Museum Tekstil meningkat seiring makin banyaknya program di museum, mulai dari pameran, fashion show, hingga lomba dan aneka kursus. Di sisi lain, pihaknya juga bekerja sama dengan pihak lain melakukan sosialiasi. Tekstil yang dipamerkan bukan hanya asal Indonesia, tetapi juga mancanegara. Desember lalu, misalnya, digelar pameran batik Jepang, juga disemarakkan dengan fashion show. Tahun ini, berkaitan Tahun Kunjungan ke Museum sejumlah program telah disiapkan. Selain pameran, juga masyarakat ikut berpartisipasi seperti menyelenggarakan pameran batik koleksi dan weekend culture market. Mengajak serta masyarakat mengadakan kegiatan di Museum Tekstil, merupakan strategi agar acara di museum lebih semarak, sekaligus mengundang masyarakat datang lebih banyak. “Kami merencanakan empat acara besar pada tahun ini, termasuk pameran batik koleksi negara-negara anggota ASEAN September mendatang. Belum lagi acara-acara partisipasi masyarakat seperti pameran batik koleksi, lomba, bazar barang kerajinan, talk show, pentas seni, dan lain-lain. Jadi tahun ini memang lebih semarak dibanding sebelumnya,” jelas Indra Riawan yang pernah mengepalai Museum Keramik Jakarta. Mulai tahun ini, pameran di ruang displai utama pun dibuat tematik. Misalnya, April -Juni mendatang mengangkat tema Betawi karena disesuaikan peringatan HUT Kota Jakarta 22 Juni. Setelah itu, Juli - September mengangkat tema Badui, dikombinasikan batik asal Banten. “Nantinya secara bergilir koleksi daerah lain pun akan dipamerkan disesuaikan momentumnya,” tuturnya. Ia menambahkan, secara keseluruhan Museum Tekstil memiliki 2000 koleksi, yang tertua berasal dari abad ke-17, yakni, batik dari Kesultanan Mangkunegara, juga pataka Kesultanan Cirebon yang bermotifkan batik dengan simbol pedang. “Pataka ini pada masa lalu dibawa Kesultanan Cirebon saat akan berperang. Ini sumbangan dari Mangkunegara. Uniknya, pihak Kesultanan Cirebon sempat tidak tahu bahwa pataka itu disumbangkan kepada kita. Tetapi, niat pihak Mangku Negara menyumbang ke kami (Museum Tekstil) untuk menambah pengetahuan tentang khazanah batik Indonesia,” jelasnya. Bukan hanya program dan kegiatan yang dibenahi di Museum Tekstil, tetapi juga secara fisik bangunan tersebut pun telah dibenahi. Tahun lalu renovasi dilaksanakan dan selesai Oktober. Begitu pun lingkungan dalam kompleks yang ditata rapi. Oleh karenanya, suasana Museum Tekstil kini menyenangkan dan terkesan terawat. Toilet, misalnya, yang biasanya menjadi tolok ukur kebersihan suatu bangunan/kawasan, kini lebih bersih dan terawat dengan air yang berlimpah. “Renovasi museum bukan dalam rangkaian Tahun Kunjungan Museum, tetapi memang merupakan program pemerintah daerah sebagai bagian revitalisasi Kota Tua,” jelas Indra Riawan. Sayangnya, keindahan dan kemegahan bangunan museum dan kenyamanan suasana, tidak bisa terlihat dari luar kompleks karena tertutup pedagang kaki lima yang berderet-deret di luar pagar. Ada kesan kumuh di sini. Sampai-sampai papan nama Museum Tekstil pun hampir tertutup. Pihak museum bukannya tidak mengetahuinya. Bahkan mereka pun kerap menerima keluhan dari pengunjung gara-gara masalah tersebut. Namun, pihak museum mengaku tak bisa berbuat banyak karena wewenang membersihkan pedagang kaki lima di depan museum ada pada pemda wilayah, dalam hal ini Jakarta Pusat. — dia |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





MEMASUKI kompleks Museum Tekstil di kawasan KS Tubun Tanah Abang, Jakarta Pusat, kita seolah ‘terlempar’ ke masa lalu, berabad-abad silam. Bangunan berarsitektur art deco bekas kediaman pribadi seorang bangsawan Prancis abad ke-17 ini, megah berdiri di tengah taman. Di pojok kanan, menghadap taman luas yang ditumbuhi pohon-pohon rindang, berdiri bangunan lain lebih kecil yang juga bersarsitektur serupa.
Di dua bangunan itulah acara-acara utama Museum Tekstil biasa diadakan. Pada hari biasa, bangunan utama juga dipakai sebagai ruang display koleksi museum yang jumlahnya 2000-an secara silih ganti. Sedangkan bangunan lebih kecil yakni gallery, biasanya digunakan masyarakat untuk memamerkan koleksi tekstil miliknya.