Berlangganan Koran Tokoh Setahun Rp 90.000 + Ongkos Kirim 6 Bulan Rp 60.000 + Ongkos Kirim Hubungi: Pipit/Ayu (0361) 425373, sms ke Sepi (0361) 7402414
Love Story H. Roichan dan Sri Rahayu Ilyas., M.Pd. (3) Kisah Cinta Terhalang Selat Bali
Senin, 01 Februari 2010
MENGUNGKAPKAN perasaan cinta kepada seseorang tak semudah membalikkan telapak tangan. Meski telah sekian lama memendam perasaan suka pada sang pujaan hati, Sri Rahayu Ilyas, mulut Roichan masih terkunci. Namun, sikap diamnya itu cukup beralasan. Selain masih duduk di bangku SMA, Rahayu juga memunyai seorang kakak perempuan yang saat itu belum memiliki tambatan hati. “Ini tradisi Jawa, tak berani melangkahi kakak perempuan. Jadi saya nantikan momen yang tepat,” kisah Roichan.
Meskipun mulut terkunci, Roichan tetap berupaya menunjukkan perasaannya lewat perbuatan dan gerak-gerik. Tak hanya sering bersilaturami ke rumah Rahayu, ia juga sering memberi kejutan kecil buat Rahayu. Ia ingat betul hari ulang tahun Rahayu Ilyas. Saat hari bahagia itu tiba, dimanfaatkan sebagai momen yang tepat untuk memberikan hadiah istimewa kepada Rahayu. Roichan senantiasa memberikan hadiah kecil yang membuat hati Rahayu makin kesengsem. “Bapak dulu sering memberikan hadiah buku karena saya memang punya hobi membaca,” kata Rahayu mengenang masa lalunya.
Gelagat Roichan sebenarnya sudah tercium ayah Rahayu, M. Ilyas (alm). Meski tak langsung menerima kedatangan Roichan, namun sikap hangat senantiasa ditunjukkan kedua orangtua Rahayu saat Roichan bertandang ke rumah mereka di Kampung Pugeran, Mantri Jeron, Yogyakarta, yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumah Roichan di Kampung Deengan.
Sebagai orang yang senantiasa menjunjung tinggi adat istiadat budaya Jawa, Roichan tak grusa-grusu saat mendekati keluarga pujaan hatinya itu. Dalam tiap kunjungannya ke rumah Rahayu, ia tak sendiri. Selalu ada teman yang ia ajak sebagai salah satu cara menghindari kemungkinan munculnya fitnah. Ia pun tahu waktu kapan ia mesti berkunjung dan kapan harus pulang. “Saya bersilaturahmi dengan keluarga Rahayu dua minggu sekali. Pulangnya pun tak sampai larut malam,” katanya. Mungkin penampilan itu juga yang membuat keluarga Rahayu memandang Roichan merupakan lelaki yang baik bagi pendamping hidup putri mereka.
Namun, cinta perlu pengorbanan. Empat tahun sudah, Roichan menanti Rahayu membalas ungkapan cintanya yang disampaikan lewat perhatian dan gerak-gerik. Selama kurun waktu tersebut, Roichan memang selalu mengawasi gerak-gerik Rahayu. Sebagian besar teman laki-laki yang dekat dengan Rahayu pun ia ketahui. “Pernah saat saya memberikan hadiah ulang tahun, ada seorang laki-laki yang memberikan hadiah juga. Namun, Rahayu lebih memilih pemberian saya,” kenangnya. Hal itu membuat Roichan makin yakin jika pujaan hatinya juga memendam perasaan yang sama dengannya.
Momen Terindah Rahayu telah menamatkan pendidikan SMA. Oleh karena menyenangi bahasa Jerman, Rahayu memilih IKIP Negeri Yogyakarta sebagai tempatnya menempuh pendidikan tinggi. “Saya memilih Jurusan Bahasa Jerman,” kata Rahayu. Sedangkan Roichan hampir menyelesaikan studinya di Pendidikan Hakim Negeri Yogyakarta. Terpikir oleh Roichan bahwa saat itu adalah saat yang tepat mengungkapkan isi hatinya lewat kata-kata. Bukan hanya karena Rahayu telah beranjak dewasa, namun karena Roichan akan segera meninggalkan kampung kelahirannya.
“Saat itu, saya sudah lulus mengikuti Pendidikan Hakim Negeri. Lulusan perguruan tinggi itu memang langsung diangkat menjadi pegawai negeri sipil,” katanya. Usai menamatkan pendidikan, Roichan dihadapkan pada pilihan yang membuat hatinya bergemuruh. Ia diharuskan memilih satu ibu kota provinsi yang akan ia jadikan tempat mengabdi sebagai seorang pegawai negeri sipil. “Waktu itu saya ada dua pilihan, Padang, ke Sumatera Barat, atau ke Singaraja (Singaraja sebelumnya menjadi ibu kota Sunda Kecil). Saya punya tekad, jika ke Sumatera saya akan melanjutkan pendidikan. Dan, sebaliknya jika ke arah timur saya akan mengabdi menjadi guru. Akhirnya pilihan jatuh ke Singaraja. Saya mendapat tugas dinas di Bali,” katanya.
Tugas dinas itu tentu membuatnya harus berpisah dengan Rahayu. Lewat sepucuk surat cinta yang ia berikan kepada Rahayu, Roichan mengungkapkan perasaannya. Gayung pun bersambut. Baik Rahayu maupun keluarganya telah memberikan sinyal positif kepada Roichan. “Beberapa hari setelah surat cinta saya layangkan kepada Rahayu, keluarga Rahayu mengundang saya makan malam. Memang tak ada pembicaraan serius terkait hubungan kami. Namun, sesuai adat Jawa, itu merupakan pertanda, bahwa ungkapan hati saya diterima tak hanya oleh Rahayu, juga keluarganya,” katanya.
Perpisahan adalah hal yang sangat menyakitkan. Namun, Roichan percaya, jika memang jodoh Rahayu akan tetap menjadi miliknya. “Kami memegang prinsip saling percaya,” kata Roichan. Beberapa hari menjelang keberangkatan Roichan ke Bali, dua sejoli ini bersepeda ria di kota Yogyakarta. Meski tidak berboncengan karena keduanya memilih menggunakan sepeda masing-masing, mereka mencatat momen itu adalah hal yang terindah yang pernah mereka jalani selama sekian lama saling mengenal. “Saya ajak dan kenalkan Rahayu pada bude saya dan juga saudara yang lain. Ketika itu saya belum berani mengajak Rahayu ke rumah saya,” katanya. Bagaimana kemudian dua sejoli ini merajut kisah cinta yang terhalang Selat Bali? —lik
Industri Tenun perlu Generasi Muda yang ProduktifSenin, 30 Agustus 2010Mengunjungi Sentra Industri Kerajinan di Gianyar . Jika hanya mengandalkan teknik produksi tradisional tenun cagcag tidak akan mampu memenuhi pasar. Untuk itu, perlu pengembangan tenun ikat...