Calendar Date

Sep
09
2010
  • Advertisement
  • Advertisement

Berlangganan Koran Tokoh
Setahun Rp 90.000 + Ongkos Kirim
6 Bulan Rp 60.000 + Ongkos Kirim

Hubungi: Pipit/Ayu (0361) 425373, sms ke Sepi (0361) 7402414

Advertiser

sale
STORI Akiko Matsubara (4) Gemar Membaca sejak Bocah PDF Cetak
Senin, 01 Februari 2010
ImageSEORANG pengusaha di Bali baru saja meninggalkan rumah keluarga Akiko Matsubara di Banjar Tabola, Sidemen, Karangasem. “Pengusaha ini salah seorang klien saya yang datang dari Denpasar. Dia baru saja menyimak penuturan tentang nasib dan keberuntungannya tahun 2010 melalui garis tangannya yang saya baca,” ujar Akiko Matsubara saat ditemui Koran Tokoh pekan lalu di rumah keluarga suaminya itu. Kisah kemahiran Akiko yang dimuat Koran Tokoh sejak tiga pekan terakhir diakuinya mengundang penasaran kalangan pembaca koran ini. “Banyak sekali pembaca Koran Tokoh yang menelepon saya. Mereka berasal dari berbagai daerah di Bali.  Mereka umumnya ingin bertemu dan meminta saya membaca garis tangannya. Tetapi, tidak semua penelepon sempat ke Sidemen,” tuturnya.

Kemahirannya membaca garis tangan mulai terasah saat Akiko memasuki bangku kelas VI sekolah dasar di Jepang. Namun, sebelum menekuni bangku pendidikan dasar sebenarnya bakatnya itu sudah terpendam dalam diri Akiko bocah.  “Jika ibu saya gelisah, perasaan saya juga enggak enak. Kadang saya juga merasakan sendiri adanya hal-hal aneh. Tetapi, saat masih anak-anak kan saya belum mengerti makna di balik hal-hal aneh semacam itu,” katanya.

Ada semacam kontak batin yang dirasakan sang Ibu dan dirinya. Ini terutama lantaran ibunya memiliki kemampuan supranatural pula. “Ibu saya bisa merasakan sesuatu yang bakal menimpa keluarga kami maupun tetangga dekat. Tetapi, kemampuan supranatural Ibu tidak berkembang. Ibu memang tidak pernah mau mengasah bakatnya itu,” kata Akiko.

Ibunya pun tak pernah mewariskan bakat supranaturalnya kepada buah hatinya, Akiko maupun adiknya. “Ibu saya ingin saya sekolah yang baik agar menjadi orang yang berguna,” ujarnya.
Namun, kejanggalan tetap sulit diusir dari kehidupan sehari-hari Akiko bocah. Ia mengutip sebuah kisah nyata yang dialaminya saat masih kecil. “Saya bisa melihat makhluk halus. Penampakannya berupa seorang laki-laki yang sedang duduk di sebuah sudut rumah kami. Kejadian ini saya ceritakan kepada Ibu. Tetapi, Ibu meminta saya agar jangan hanyut dalam kehidupan dunia semacam itu. Itu dunia tidak nyata. Ibu mendorong saya agar menikmati hidup di dunia nyata. Beliau takut nanti saya keasyikan lalu tidak mau sekolah,”  ujarnya.

Kakek maupun ayahnya amat memperhatikan masa depan pendidikan Akiko. Ia kerap diberi sangu untuk mengunjungi toko buku. “Saya ke toko buku sering diantar Ayah. Saya menikmati berbagai bacaan anak-anak jika sedang berada di toko buku. Saya memang gemar membaca sejak bocah,” kata perempuan beradarh Jepang yang fasih berbahasa Indonesia ini.

Suatu ketika kebiasaan serupa dilakoni Akiko. Sebuah toko buku langganannya kembali dikunjungi Akiko yang saat itu ditemani ibunya. Matanya mendadak seakan terpaku di sebuah rak buku. Ada sebuah buku yang menarik perhatiannya. Cover buku tersebut melukiskan gambar garis-garis tangan.  “Saya raih buku itu sambil menanyakan makna gambar garis-garis tangan tadi kepada Ibu. Ibu kemudian menjelaskan, itu gambar garis-garis tangan manusia. Isi bukunya menguraikan cara membaca garis tangan. Saya mengangguk-angguk, tetapi belum terlalu mengerti penjelasan ibu. Maklum umur saya masih kecil,”  jelasnya.

Namun, Akiko diam-diam tertarik pada penjelasan ibunya tadi. Isi buku itu menggelitik hati kecilnya. Akiko ingin mengetahui lebih mendalam tentang ilmu membaca garis tangan itu. “Saya lalu meminta izin Ibu agar membeli buku tersebut. Ibu tidak keberatan,” katanya.
Sepulang dari toko, Akiko berusaha membaca isi buku tersebut. Ia mencoba menghafal petunjuk  membaca garis tangan dalam buku ini. “Sesekali saya praktikkan kepada teman-teman sebaya di sekolah. Tetapi, saat itu, saya dan teman-teman kan masih belum mengerti maknanya. Jadi, saat itu saya membaca garis tangan mereka untuk sekadar mempraktikkan apa yang saya baca dari buku,” lanjutnya.

Hal itu terus berlangsung hingga Akiko duduk di kelas VI sekolah dasar. Saat itu, dirinya mulai mengerti makna tiap garis tangan temannya. Akiko mencoba menjelaskan makna garis tangan temannya yang dibacanya tadi. “Saya kadang beri tahu, teman yang saya baca garis tangan kemarin menghadapi masalah di rumah. E…tahu-tahunya teman saya bilang betul. Saat di rumahnya teman Akiko ini mengaku sempat dimarahi orangtuanya,” kisahnya. }

Lambat-laun penjelasan Akiko mulai dipercaya teman sebayanya di sekolah. Ini membuat Akiko bersikeras mendalami ilmu membaca garis tangan atau palmistry itu. “Saya lalu mencari buku-buku lain yang menguraikan ilmu membaca garis tangan,” katanya.
Ada kejadian menarik yang dialaminya suatu ketika. Akiko diajak ibunya menemui seorang paranormal. Namun, sebelum bertemu paranormal, Akiko sudah menjelaskan hal-hal yang perlu dilakukan ibunya. “Penjelasan saya kepada Ibu ternyata sama dengan apa yang dikatakan paranormal itu,” ungkapnya.

Paranormal itu pun membaca bakat besar Akiko untuk membaca garis tangan orang. Lelaki ini menganjurkan Akiko kecil menekuni ilmu yang disukainya. “Ilmu tersebut tidak terbatas. Saya disarankan belajar ilmu yang saya sukai. Ilmu tersebut diyakini bisa membuat saya suatu ketika bakal menjadi orang terkenal dan berada di puncak ilmu itu,” ujar Akiko mengutip ucapan paranormal tadi. –sam.
Comments (1)Add Comment

Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Advertisement
 

Usaha

article thumbnailIndustri Tenun perlu Generasi Muda yang Produktif

Senin, 30 Agustus 2010

Mengunjungi Sentra Industri Kerajinan di Gianyar . Jika hanya mengandalkan teknik produksi tradisional tenun cagcag tidak akan mampu memenuhi pasar. Untuk itu, perlu pengembangan tenun ikat...

Artikel lainnya

Keluarga

article thumbnailLove Story (2) Komjen Pol Made Mangku Pastika dan Ni Made Ayu Putri Pastika

Senin, 30 Agustus 2010

Mengayuh Biduk Rumah Tangga. JODOH alumnus Akabri Kepolisian Made Mangku Pastika sudah digariskan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Sosok Ni Made Ayu Putri, adik kandung sobatnya semasa...

Artikel lainnya