Calendar Date

Sep
09
2010
  • Advertisement
  • Advertisement

Berlangganan Koran Tokoh
Setahun Rp 90.000 + Ongkos Kirim
6 Bulan Rp 60.000 + Ongkos Kirim

Hubungi: Pipit/Ayu (0361) 425373, sms ke Sepi (0361) 7402414

Advertiser

sale
Kerajinan Bokor Batok Kelapa Bantu Ibu-ibu dan Anak Sekolah PDF Cetak
Senin, 25 Januari 2010
ImageDaerah Kusamba, Klungkung dikenal sebagai kampung nelayan. Namun, dibalik kesibukan aktivitas para nelayan dan para penumpang yang ingin menyueberang menuju Nusa Penida, ada sektor yang menggeliat. Sektor ini adalah kerajinan bokor batok kelapa.
"Awalnya kami mengembangkan usaha pembuatan ider-ider. Lalu muncul ide membuat bokor dari batok kelapa," kata Ketut Subrata yang didampingi istrinya, Istiqomah.
Warga banjar Rame ini memulai pembuatan bokor ini enam tahun silam. Bahan utamanya batok kelapa yang sudah diolah hingga berbentuk koin. Koin-koin inilah yang dikreasikan hingga menjadi bokor dengan ukuraaan kecil, sedang, dan besar lengkap dengan tutupnya.

Ketut Subrata dan Istiqomah juga dibantu beberapa warga untuk membuat bokor batok kelapa ini. Biasanya mereka mengerjakannya di rumah masing-masing. Bokor yang sudah selesai diserahkan ke pasangan suami-istri ini untuk dijual atau dipajang di toko yang berada di jalan raya Kusamba.

Saat ini  permintaan bokor batok kelapa sedang tinggi. Bokor berwarna coklat dan krem ini bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat di Klungkung saja, pemasarannya sudah sampai ke Buleleng, Jembrana, Tabanan, Badung, dan Denpasar. Namun, tingginya permintaan, membuat pengrajin kesulitan untuk memenuhinya. Selain sempat terkendala bahan baku, faktor utama penyebab kesulitan itu akibat kurangnya tenaga kerja.

"Pembuatan bokor memang agak rumit. Untuk bokor berukuran besar, satu pengrajin hanya bisa menghasilkan satu buah dalam sehari. Bokor ukuran besar ini dijual Rp 50 ribu/buah dengan ongkos pekerja Rp 13 ribu per buah. Sedangkan untuk ukuran sedang, satu pengrajin bisa menghasilkan tiga buah dalam dua hari. Sedangkan yang berukuran kecil, rata-rata bisa membuat dua buah bokor setiap hari. Harga bokor ukuran sedang Rp 45 ribu dan ukuran kecil Rp 30 ribu," ungkap Istiqomah.

Ia juga mengatakan permintaan terus meningkat. Pemesannya bukan hanya masyarakat Bali, tetapi juga hotel-hotel dan pengusaha. "Kami banyak menolak permintaan itu karena kami khawatir tidak bisa memenuhinya. Tenaga kerja masih kurang sehingga produksi sedikit,’’ ujarnya.

Bahan baku juga diakui sempat menjadi kendala. Karena sulit didapatkan. Di Klungkung, bahan baku bisa diperoleh di wilayah Koripan, Banjarangkan. Bahan baku itu berupa lempengan-lempengan batok kelapa yang sudah dibentuk menyerupai koin atau uang logam. Untuk mendapatkan bahan baku itu, Subrata dan Istiqomah bahkan merekrut orang-orang dan memberikannya mesin (alat kerja).

Tetapi, harganya terlampau tinggi sekitar Rp 30 ribu per bungkus yang isinya 1.000 biji untuk bahan baku berwarna coklat dan Rp 35 ribu/1000 biji untuk yang krem. Sedangkan tali untuk mengikat rajutan antarbatok kelapa berbentuk uang kepeng itu, menggunakan tali rotan yang bisa diperoleh di wilayah Gianyar (Ubud dan Sukawati). ‘’Kalau sekarang, bahan baku sudah tidak menjadi masalah lagi.

Malah, harga yang kami dapat lebih murah karena selain mencari di Koripan, Banjarangkan, kami juga mendatangkan bahan dari Buleleng dan Desa Songgon, Banyuwangi,’’ kata Subrata Dalam satu hari kata dia, jumlah pesanan yang diambil pedagang asal
Klungkung antara 50-100 buah bokor.

Belum lagi melayani permintaan antar ke wilayah Denpasar, Badung, Tabanan, Buleleng dan Jembrana yang notebena menjadi basis langganannya. Menolak pesanan terpaksa dipilih karena Subrata dan Istiqomah tidak ingin mengecewakan pelanggan. ‘’Daripada nantinya tidak bisa menepati janji, lebih baik terima pesanan semampunya dulu. Yang penting, dengan apa yang
kami lakukan ini, sudah bisa membantu masyarakat terutama ibu-ibu dan anak-anak sekolah yang ingin mendapat penghasilan tambahan tanpa melupakan tugas utama sebagai pelajar,’’ tambah bapak dua anak itu.

Selain mengembangkan bokor batok kelapa ini, Subrata juga terus menekuni usaha ider-idernya. --wah
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Advertisement
 

Usaha

article thumbnailIndustri Tenun perlu Generasi Muda yang Produktif

Senin, 30 Agustus 2010

Mengunjungi Sentra Industri Kerajinan di Gianyar . Jika hanya mengandalkan teknik produksi tradisional tenun cagcag tidak akan mampu memenuhi pasar. Untuk itu, perlu pengembangan tenun ikat...

Artikel lainnya

Keluarga

article thumbnailLove Story (2) Komjen Pol Made Mangku Pastika dan Ni Made Ayu Putri Pastika

Senin, 30 Agustus 2010

Mengayuh Biduk Rumah Tangga. JODOH alumnus Akabri Kepolisian Made Mangku Pastika sudah digariskan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Sosok Ni Made Ayu Putri, adik kandung sobatnya semasa...

Artikel lainnya